Bapanas Batasi Pembelian Beras SPHP Maksimal 25 Kg per Konsumen

Simetrisnews — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menerapkan kebijakan baru pembelian beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di tingkat konsumen. Pembelian kemasan 5 kilogram kini dibatasi maksimal lima kemasan atau total 25 kilogram per orang.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan harga beras SPHP tidak mengalami kenaikan dan tetap berfungsi sebagai penyeimbang harga pasar.

“Ada namanya SPHP. Itu beras yang untuk penyeimbang kalau ada yang mau menaikkan harga. Nah SPHP, kita tidak naikkan. Tetap harganya seperti sekarang. (Kualitasnya) ini premium,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).

Data Bapanas mencatat realisasi penyaluran SPHP sepanjang Maret 2026 mencapai 70,01 ribu ton. Sementara periode 1–23 April sudah menyentuh 69,85 ribu ton atau 99,77 persen dari capaian bulan sebelumnya.

Untuk mengatasi kendala kemasan, Bapanas bersama Perum Bulog membahas pemanfaatan stok kemasan lama periode 2023–2025 sebanyak 12,3 juta lembar, dengan syarat informasi mutu, merek, dan HET tetap sesuai isi serta diawasi ketat.

Amran menjelaskan pembatasan ini bertujuan mencegah praktik pembelian borongan yang kemudian dijual kembali melalui pengemasan ulang dengan merek lain.

“Ini dibatasi karena ini adalah subsidi pemerintah supaya jadi penyeimbang. Kalau tidak dibatasi (bisa) diborong 1 truk, lalu dijual kembali,” jelasnya.

Ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 34 Tahun 2026 tentang petunjuk teknis SPHP beras di tingkat konsumen. Selain kemasan 5 kg, tersedia juga kemasan 2 kg dengan batas maksimal dua kemasan per pembeli. Beras SPHP yang sudah dibeli dilarang diperjualbelikan kembali karena mengandung subsidi negara.

Tahun ini, target penyaluran SPHP mencapai 828 ribu ton dengan anggaran subsidi Rp 4,97 triliun. Bulog diminta memprioritaskan distribusi ke daerah non-sentra produksi dan wilayah yang tidak sedang panen raya.

Amran juga memastikan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam kondisi sangat besar. Ia mengaitkan kondisi ini dengan tren inflasi beras yang tidak lagi menjadi penyumbang utama dalam dua tahun terakhir.

“Beras dulu penyumbang inflasi utama. Sekarang bukan lagi. Jadi kita pakai data,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan