BRIN Ingatkan Risiko Wabah Pes di Indonesia, Ini Penyebab dan Wilayah Fokusnya

Simetrisnews – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi kemunculan kembali wabah pes di Indonesia. Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini pernah mewabah pada awal abad ke-20 dan dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah.

Pes menular melalui gigitan pinjal (kutu) yang hidup pada tubuh tikus. Meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, peneliti BRIN menilai kondisi ini belum tentu menandakan Indonesia sepenuhnya bebas dari ancaman pes.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menyebut adanya fenomena silent period, yaitu masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, namun sebenarnya masih berpotensi muncul kembali.

“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” ujarnya dikutip dari laman BRIN, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, indikasi fase ini diperkuat dengan temuan bahwa bakteri penyebab pes masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia.

Perubahan Lingkungan Tingkatkan Risiko

Ristiyanto menjelaskan, perubahan lingkungan menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko kemunculan kembali pes. Deforestasi, alih fungsi lahan, serta pertumbuhan penduduk membuat habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia.

Kondisi ini membuka peluang lebih besar terjadinya penularan melalui gigitan pinjal pembawa bakteri.

Periset BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, menambahkan bahwa tikus pembawa Yersinia pestis masih banyak ditemukan di Indonesia. Beberapa daerah di Pulau Jawa bahkan masih dikategorikan sebagai wilayah fokus pes, meski tak ada kasus pada manusia selama lebih dari satu dekade.

Wilayah tersebut antara lain:

  • Kabupaten Pasuruan
  • Boyolali
  • Sleman
  • Bandung

Choirul menegaskan, ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya.

Perlu Penguatan Surveilans

Sebagai langkah antisipasi, BRIN mendorong penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, serta vektor penyakit.

Selain itu, peningkatan kebersihan lingkungan dinilai krusial untuk mencegah potensi kemunculan wabah.

“Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang ‘tertidur’. Namun, tanpa kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini berpotensi muncul kembali,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan