Harga Plastik Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Produk Ritel Mulai Terkerek 10 Persen

Simetrisnews — Kenaikan harga plastik akibat konflik di Timur Tengah mulai terasa dampaknya di sektor ritel. Sejumlah produk berbahan plastik maupun yang menggunakan kemasan plastik mengalami penyesuaian harga dalam satu hingga dua pekan terakhir.

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, mengatakan peritel sudah menerima pemberitahuan kenaikan harga dari para pemasok.

“Saat ini kami di ritel sudah menerima kenaikan harga dari supplier. Jadi dari dua minggu lalu, atau minggu lalu juga sudah masuk. Rata-rata 10%. Ya, tapi kami lagi negosiasi, ada yang naik 5%, 10%,” ujar Budihardjo di Gedung Smesco, Jakarta Selatan.

Produk yang terdampak cukup luas, mulai dari alat rumah tangga, makanan dan minuman dalam kemasan, hingga peralatan elektronik dan kelistrikan yang banyak menggunakan komponen plastik.

Menurut Budihardjo, peritel kini masih berupaya menahan kenaikan harga dengan bernegosiasi agar tetap bisa mendapatkan harga lama. Namun jika tidak memungkinkan, kenaikan harga akan dilakukan secara bertahap di tingkat ritel.

“Elektronik juga, alat listrik yang berhubungan dengan kabel-kabel itu naik semua. Ember-ember itu naik semua,” katanya.

Daya Beli Terancam, Ritel Siapkan Strategi Promo

Jika tren ini berlanjut, Hippindo khawatir daya beli masyarakat akan semakin tergerus. Kondisi ini berpotensi menekan penjualan ritel, sehingga pelaku usaha harus mengandalkan strategi promosi untuk menjaga perputaran barang.

Peritel mulai menyiapkan program belanja, diskon stok lama, hingga mendorong belanja wisatawan asing untuk menjaga keseimbangan antara harga lama dan harga baru.

“Jadi ada yang harganya kami turunkan, ada yang harganya kami naik,” jelas Budihardjo.

Kenaikan harga plastik ini menjadi faktor baru yang memberi tekanan pada harga barang konsumsi di ritel, di tengah kondisi ekonomi yang masih sensitif terhadap perubahan daya beli masyarakat.

Tinggalkan Balasan