Tradisi Nyalawena di Palabuhanratu, Ritual Berburu Ikan Impun yang Sarat Makna
Simetrisnews – Di pesisir Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, terdapat tradisi unik yang terus diwariskan lintas generasi: Nyalawena. Tradisi ini dikenal sebagai momen berburu ikan impun di tepi pantai yang bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga peristiwa budaya dan spiritual masyarakat setempat.
Berpusat di kawasan Pantai Citepus, warga mulai memadati pantai sejak dini hari sekitar pukul 03.30 WIB hingga siang. Mereka membawa sirib—jaring segitiga dari kayu dan kain kasa tipis—untuk menangkap ikan impun, ikan kecil berwarna perak yang menyerupai teri.
Asal-Usul Nama Nyalawena
Istilah Nyalawena berasal dari bahasa Sunda salawe yang berarti dua puluh lima. Nama ini merujuk pada puncak pelaksanaan tradisi yang berlangsung setiap tanggal 25 dalam penanggalan Hijriah.
Rangkaian kegiatan biasanya berlangsung dari tanggal 23 hingga 27, dengan puncak keramaian pada tanggal 25. Pada periode inilah ikan impun diyakini melimpah di tepian pantai.
Makna Sosial, Ekonomi, dan Spiritual
Bagi masyarakat pesisir Palabuhanratu, Nyalawena memuat tiga dimensi makna:
- Ekonomi – Ikan impun diolah menjadi sambal khas, abon, atau dijual di pasar tradisional.
- Sosial – Seluruh warga, dari anak-anak hingga orang tua, terlibat bersama. Tradisi ini memperkuat gotong royong dan menjadi ajang silaturahmi, termasuk dengan pengunjung dari luar daerah.
- Spiritual – Dipandang sebagai wujud syukur atas rezeki laut sekaligus pengingat untuk menjaga alam secara bijak.
Nyalawena merepresentasikan kedekatan masyarakat dengan alam. Ikan impun tidak semata hasil tangkapan, tetapi simbol berkah yang harus dihormati.
Tradisi ini terus bertahan karena tidak hanya relevan secara budaya, tetapi juga menyatu dengan ritme kehidupan masyarakat pesisir Sukabumi.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











