Kisah Friedrich Silaban, Arsitek Kristen Perancang Masjid Istiqlal yang Sarat Makna Nasionalisme

Simetrisnews – Masjid Istiqlal merupakan salah satu masjid yang terkenal di Indonesia. Dalam momen-momen tertentu seperti Ramadan dan Idul Fitri, masjid ini ramai dikunjungi oleh umat muslim dari berbagai daerah.

Salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara ini berdiri di atas lahan seluas 9,5 hektare. Mulai dibangun pada 1961, Masjid Istiqlal dapat menampung hingga 120.000 jemaah.

Dibalik kemegahan Masjid Istiqlal, ada sosok seorang arsitek yang berjasa untuk merancang tempat ibadah ini dengan sebaik mungkin. Sosok tersebut adalah Friedrich Silaban.

Dikutip dari catatan simetrisnews, Silaban merupakan anak seorang pendeta dari beragam Kristen. Meski begitu, ia berhasil memenangkan sayembara desain Masjid Istiqlal yang diadakan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno pada 1955.

Friedrich Silaban merupakan anak dari pasangan Noria Boru Simamora dan Sintua Jonas Silaban. Ia lahir pada 16 Desember 1912 di Desa Bonandolok, Tapanuli, Sumatera Utara.

Semasa mudanya, Silaban berkesempatan untuk mengenyam pendidik di HIS Narumonda, Tapanuli, Sumatra Utara. Ia kemudian mengikuti tes Koningen Wilhelmina School atau KWS (Sekolah Teknik Menengah di Hindia Belanda) pada 1927.

Silaban berhasil lulus tes tersebut dan akhirnya berangkat ke Batavia (kini Jakarta) untuk melanjutkan pendidikannya. Ia kemudian lulus dari KWS pada 1931.

Karier Silaban sebagai arsitek dimulai saat menjelang lulus sekolah. Ia bekerja paruh waktu untuk juru gambar BOW bernama J.H. Antonisse. Tak disangka, kemampuan Silaban sebagai arsitek semakin terlatih. Bahkan ia juga pernah mengikuti pameran di Pasar Gambir.

Memiliki kemampuan yag baik membuat Silaban dipekerjakan di Zeni Angkatan Darat Belanda mulai 1931-1939. Setelah itu, ia pindah menjadi drafter di Kotapraja Bogor pada 1939-1942.

Setelah pendudukan Jepang, Silaban bekerja di Dinas Pekerjaan Umum Bogor hingga 1947. Ia juga sempat memegang jabatan sebagai Direktur Pekerjaan Umum sampai 1949.

Silaban tetap berkarier di pemerintahan selama beberapa tahun, sebelum akhirnya memutuskan pensiun di Dinas Pekerjaan Umum Kotapraja Bogor.

Tak hanya bekerja di kantor pemerintahan, Silaban kerap terlibat dalam sejumlah proyek pembangunan swasta dan mengikuti berbagai kompetisi. Pada pemerintahan Presiden Soekarno, ia pernah terlibat banyak proyek ‘National Building’.

Adapun dua proyek nasional yang diikuti oleh Silaban, yakni pembangunan Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional atau Monas di Jakarta.

Di era Soekarno, bangunan-bangunan yang dibuat sarat akan nilai nasionalisme. Kemudian Silaban merancang Masjid Istiqlal dengan keinginan Soekarno saat itu.

Nilai nasionalisme pada Masjid Istiqlal bisa dilihat pada kubahnya yang berdiameter 45 meter, melambangkan tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945.

Masjid Istiqlal terdiri dari lima lantai yang melambangkan lima rukun Islam, lima waktu salat wajib, dan lima sila dasar Pancasila. Jadi tak hanya soal nasionalisme, tapi juga mengedepankan unsur Islam pada bangunannya.

Lalu, terdapat tujuh pintu masuk ke dalam Masjid Istiqlal. Setiap pintu memiliki nama asmaul husna, dari pintu utama bernama Al Fattah, As Salam dan Ar Rozzaq selanjutnya bernama Al Quddus, Al Malik, Al Ghaffar, dan Ar Rahman.

Menariknya, angka tujuh juga diambil sebagai tanda bahwa ada tujuh lapisan langit kosmologi alam semesta Islam, serta terdapat tujuh hari dalam seminggu.

Pembangunan Masjid Istiqlal yang Berlangsung Selama 17 Tahun

Sebagai informasi, pembangunan Masjid Istiqlal memakan waktu hingga 17 tahun. Peletakan batu pertama dilakukan pada 1961 oleh Ir. Soekarno dan diresmikan oleh Presiden kedua Indonesia, Soeharto, pada Februari 1978.

Lamanya pembangunan masjid bukan karena kurangnya bahan material, melainkan situasi politik yang kurang kondusif di Tanah Air. Di masa itu, berlaku demokrasi parlementer sehingga partai-partai politik saling bertikai untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing.

Kondisi tersebut memuncak pada 1965, tepatnya saat terjadi persitiwa 30 September atau G30S/PKI. Peristiwa itu turut menyeret Presiden Soekarno yang saat itu masih memimpin Indonesia.

Setelah situasi politik mereda, pada 1966, Menteri Agama KH. Muhammad Dahlan mempelopori kembali pembangunan masjid ini. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
error: Halo