Dubes Iran Tegaskan Reza Pahlavi Tak Dianggap Serius
Simetrisnews – Putra mahkota atau keturunan Shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, angkat bicara usai kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Namun pernyataannya ditepis oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi.
Boroujerdi menegaskan masyarakat Iran tidak menganggap serius keberadaan Reza Pahlavi, yang saat ini tinggal di Los Angeles, Amerika Serikat.
“Kami di Iran, masyarakat negara kami, tidak menganggap ada dan tidak menganggap serius orang yang tadi disebutkan oleh wartawan penanya (Reza Pahlavi),” kata Boroujerdi di Rumah Dinas Kedubes Iran, Senin (2/3/2026).
Singgung Kudeta 1953 dan Revolusi 1979
Boroujerdi juga menyinggung peristiwa kudeta 1953 yang menurutnya melibatkan Amerika Serikat dan berujung pada pengembalian Shah Iran ke tampuk kekuasaan.
Ia mempertanyakan klaim pihak yang mengatasnamakan demokrasi bagi Iran, dengan merujuk pada Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan monarki.
“Apabila memang mereka adalah pihak yang mengharapkan demokrasi bagi Iran, mengapa masyarakat Iran harus turun ke jalanan pada tahun 1979 melalui sebuah revolusi menjatuhkan pemerintahan Shah di sana?” ujarnya.
Meski mengakui adanya ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap kepemimpinan Khamenei. Boroujerdi menegaskan kelompok yang melakukan protes pun tidak memandang Reza Pahlavi sebagai figur yang relevan.
“Mungkin saja di Iran terdapat sebuah ketidakpuasan, sebuah protes dari masyarakat. Tetapi pihak yang protes dan tidak puas pun di Iran tidak menganggap orang ini sebagai orang yang serius,” katanya.
Reza Pahlavi Minta Rakyat Bersiap.
Sebelumnya, Reza Pahlavi merespons laporan kematian Khamenei melalui akun media sosial X miliknya. Dilansir New York Post, Pahlavi menyebut kematian Khamenei sebagai akhir dari Republik Islam Iran.
“Zahhak yang haus darah di zaman kita, pembunuh puluhan ribu putra dan putri Iran yang paling berani, telah dihapus dari halaman sejarah. Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah,” tulisnya.
Pernyataan tersebut memicu sorotan di tengah situasi politik Iran yang memanas pascaserangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.













