Keutamaan 10 Hari Kedua Ramadan: Fase Maghfirah dan Momentum Memohon Ampunan
Simetrisnews– Memasuki hari ke-11 hingga ke-20 Ramadan, umat Islam meyakini fase ini sebagai masa maghfirah atau ampunan. Dalam sejumlah riwayat, bulan suci Ramadan dibagi menjadi tiga fase, yakni rahmat (10 hari pertama), maghfirah (10 hari kedua), dan pembebasan dari api neraka (10 hari terakhir).
Pertengahan Ramadan menjadi momentum penting untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat taubat kepada Allah SWT.
Dasar Riwayat tentang Tiga Fase Ramadan
Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi dari Salman Al-Farisi disebutkan:
“Inilah bulan yang permulaannya penuh rahmat, pertengahannya penuh ampunan, dan akhirnya Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka.”
Riwayat ini menjadi landasan kuat bahwa 10 hari kedua Ramadan memiliki nilai spiritual yang istimewa.
Tiga Keutamaan 10 Hari Kedua Ramadan
- Momentum Nuzulul Qur’an
Sebagian ulama mengaitkan pertengahan Ramadan dengan peristiwa Nuzulul Qur’an, yakni turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
Merujuk Surah Al-Anfal ayat 41, disebutkan istilah Yaumul Furqan (hari pembeda), yang oleh sebagian mufasir dipahami sebagai hari bertemunya dua pasukan dalam Perang Badar pada 17 Ramadan 2 Hijriah.
Dari sinilah banyak ulama mengaitkan turunnya Al-Qur’an dengan pertengahan Ramadan. Peristiwa ini menjadikan 10 hari kedua memiliki kemuliaan tersendiri karena berkaitan dengan turunnya kitab suci umat Islam. - Amalan Dilipatgandakan
Bulan Ramadan secara umum adalah waktu pelipatgandaan pahala, termasuk pada fase maghfirah.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:
“Setiap amalan kebaikan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah puasa memiliki keistimewaan khusus di sisi Allah SWT. Karena itu, pertengahan Ramadan menjadi waktu strategis untuk meningkatkan kualitas salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan amal saleh lainnya. - Penghapus Dosa
Keutamaan lain 10 hari kedua Ramadan adalah terbukanya pintu ampunan seluas-luasnya bagi mereka yang bersungguh-sungguh beribadah.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus kesalahan di antara waktu-waktu tersebut apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum penyucian diri. Dengan menjaga ibadah dan menjauhi dosa besar, seorang Muslim berpeluang mendapatkan ampunan atas kesalahan yang telah lalu.
Momentum Evaluasi Diri
Fase maghfirah bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi waktu refleksi bagi setiap Muslim:
Apakah ibadah semakin meningkat?
Apakah taubat dilakukan dengan sungguh-sungguh?
Apakah hubungan dengan sesama diperbaiki?
Pertengahan Ramadan menjadi kesempatan emas sebelum memasuki 10 malam terakhir yang lebih utama. Memperbanyak istighfar, doa, dan amal saleh menjadi kunci agar fase maghfirah benar-benar bermakna.













