Simetrisnews – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah memantau galur baru Covid-19 yang sangat bermutasi, dikenal sebagai varian Cicada atau BA.3.2. Varian ini telah terdeteksi di lebih dari 23 negara, termasuk Amerika Serikat, Hong Kong, Mozambik, dan Inggris.
Meski belum ada bukti bahwa Cicada lebih berbahaya dibanding varian lain, para ahli menyoroti temuan awal bahwa anak-anak tampak lebih rentan terinfeksi dibanding orang dewasa.
Apa itu varian Cicada?
Varian BA.3.2 pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024, namun lonjakan kasusnya baru terlihat pada September 2025. Julukan “Cicada” diambil dari karakter serangga tonggeret yang lama “bersembunyi” di bawah tanah sebelum muncul ke permukaan—menggambarkan kemunculan varian ini yang sempat tidak terdeteksi luas.
Bulan lalu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan kemunculan BA.3.2 di 25 negara bagian AS, terdeteksi dari sampel swab pasien, turis, hingga pemantauan air limbah.
WHO menempatkan BA.3.2 dalam status “under monitoring”, artinya varian ini dinilai perlu perhatian prioritas untuk diteliti potensi risikonya terhadap kesehatan global.
Mengapa anak-anak disebut lebih rentan?
Analisis awal data kasus di New York oleh peneliti varian Covid, Ryan Hisner, menunjukkan proporsi infeksi BA.3.2 lebih tinggi pada anak-anak.
Profesor Ravindra Gupta dari Cambridge Institute of Therapeutic Immunology and Infectious Diseases mengatakan temuan ini memang belum dipublikasikan secara ilmiah, namun indikasinya cukup kuat.
“Anak-anak memiliki kekebalan yang belum banyak ‘terlatih’ oleh paparan virus seperti orang dewasa. Itu mungkin membuat mereka lebih rentan terhadap varian yang sangat baru seperti ini,” jelas Gupta.
Selain faktor kekebalan, mutasi tinggi pada protein virus juga diduga membuat BA.3.2 lebih mudah menginfeksi kelompok usia muda.
Gejala tidak berbeda dari Covid biasa
Menurut Prof Paul Hunter dari University of East Anglia dan Ian Jones dari University of Reading, belum ada gejala khusus yang membedakan Cicada dari varian Covid lainnya.
Gejala yang muncul masih serupa:
- Demam
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Hidung tersumbat
- Kelelahan
- Nyeri otot dan sendi
- Sesak napas
- Diare
“Virus ini menyerang sel yang sama, apa pun variannya. Jadi gejalanya kurang lebih sama,” kata Jones.
Mengapa mutasinya sangat tinggi?
Sebagai virus RNA, SARS-CoV-2 memang bermutasi cepat. Namun CDC menyebut BA.3.2 sebagai varian yang “sangat berbeda” dari Omicron awal.
Mutasi ini membuat sistem imun lebih sulit mengenali virus, sehingga sebagian antibodi dari infeksi atau vaksin sebelumnya bisa “terlewati”.
“Virus ini jelas berhasil menghindari antibodi di populasi, sehingga penyebarannya perlahan meningkat,” ujar Jones.
Apakah vaksin masih efektif?
Efektivitas vaksin untuk mencegah infeksi mungkin menurun terhadap Cicada. Namun para ahli menegaskan vaksin lama tetap berfungsi mencegah gejala berat.
“Anda mungkin tetap terinfeksi, tapi kemungkinan besar hanya mengalami gejala ringan,” jelas Jones.
WHO mencatat 67% populasi dunia telah menerima vaksin Covid, tetapi akses booster terbaru belum merata.
Haruskah kita khawatir?
WHO sebelumnya menyatakan tidak ada data yang menunjukkan peningkatan keparahan, rawat inap, atau kematian akibat Cicada. Risiko kesehatan masyarakat dinilai masih rendah.
“Varian baru akan terus muncul. Namun penyakit berat dan angka kematian justru cenderung menurun,” kata Hunter.
Kelompok yang tetap perlu waspada:
- Lansia di atas 65 tahun
- Penderita penyakit kronis
- Orang dengan gangguan imun
- Anak dengan riwayat penyakit paru atau jantung
Sementara untuk sebagian besar anak sehat, infeksi diperkirakan dapat sembuh dengan sendirinya.
“Jika anak memiliki kondisi medis tertentu, segera cari bantuan medis. Namun untuk anak sehat, infeksi ini umumnya ringan,” tutup Gupta.
