Warga Teheran Mulai Menimbun Kebutuhan Pokok di Tengah Serangan AS-Israel
Simetrisnews – Sejumlah warga di Teheran, Iran, mulai menimbun barang kebutuhan pokok di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang terus berlangsung.
Warga mengaku khawatir terjadi kelangkaan bahan makanan serta lonjakan harga, sementara suara ledakan masih terdengar di berbagai penjuru ibu kota. Kepada BBC Persia, seorang warga bernama Nasrin mengatakan masyarakat terpaksa menyetok kebutuhan pokok karena tidak mengetahui kapan konflik akan berakhir.
“Kami harus menyetok barang kebutuhan karena kami tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung,” katanya.
Sebelum konflik memanas, harga barang di Iran sebenarnya sudah tinggi akibat tekanan biaya hidup dan sanksi internasional. Situasi tersebut sempat memicu gelombang protes nasional pada Desember lalu yang kemudian dibubarkan secara represif oleh pemerintah.
Sejak serangan AS dan Israel dimulai pada Sabtu (28/2/2026), kondisi ekonomi warga disebut semakin memburuk. Beberapa warga yang masih dapat mengakses internet melaporkan harga bahan pokok melonjak tajam.
Seorang warga Teheran bernama Pouyo mengatakan harga beras meningkat dari 530 toman menjadi 625 toman dalam waktu singkat. Kenaikan harga paling terasa terjadi pada komoditas kentang.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa pemerintah telah melarang ekspor seluruh produk pangan dan pertanian hingga waktu yang belum ditentukan guna menjaga ketersediaan kebutuhan pokok di dalam negeri.
Selain bahan makanan, harga paket internet juga mengalami kenaikan signifikan. Shayan, warga Karaj, menyebut biaya layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk meningkat tajam di tengah pembatasan akses internet oleh pemerintah.
Sementara itu, seorang pemuda bernama Omid mengatakan warga mulai merasa tidak tenang karena serangan masih terus berlangsung. Awalnya ia mengira serangan hanya menargetkan tokoh tertentu seperti pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, namun ledakan masih terjadi hingga beberapa hari kemudian.
Situasi keamanan di Teheran juga berubah. Omid menyebut kehadiran pasukan keamanan semakin ketat di jalanan, meski aktivitas warga menurun dan sebagian toko memilih tutup, terutama di area yang terdampak serangan.
Sebagian warga bahkan dilaporkan mulai meninggalkan Teheran untuk mencari tempat yang lebih aman. Namun, beberapa lainnya memilih tetap bertahan di rumah.
Organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sekitar 787 orang tewas di Iran sejak serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari 2026.
Di sisi lain, militer Israel mengklaim telah menyerang sejumlah target strategis Iran, termasuk kantor kepresidenan. Video yang diverifikasi BBC juga memperlihatkan ledakan di kawasan Pardis, wilayah timur Teheran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke berbagai target militer serta fasilitas pemerintah Israel di Tel Aviv dan lokasi lain.
Ketegangan juga meluas ke negara-negara yang menampung pangkalan militer AS seperti Qatar, Bahrain, Yordania, Uni Emirat Arab, Kuwait, serta Oman dan Arab Saudi.
















Tinggalkan Balasan