Trump Ancam Serang Iran Lebih Keras Pekan Depan, Konflik Timur Tengah Makin Memanas
Simetrisnews – Konflik di kawasan Timur Tengah masih terus memanas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pasukan negaranya akan melancarkan serangan yang lebih keras terhadap Iran dalam waktu dekat.
Dilansir dari kantor berita Agence France-Presse (AFP), Sabtu (14/3/2026), Trump mengatakan militer Amerika Serikat akan menyerang sejumlah target di Iran dengan intensitas yang lebih tinggi. Pernyataan ini mengindikasikan peningkatan operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, saat konflik memasuki minggu ketiga.
“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama pekan depan,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News Radio.
Trump juga menyampaikan keyakinannya bahwa pemerintahan Iran pada akhirnya bisa digulingkan oleh rakyatnya sendiri. Meski demikian, ia mengakui hal tersebut kemungkinan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
“Saya benar-benar berpikir itu merupakan rintangan besar bagi orang-orang yang tidak memiliki senjata. Itu hambatan besar, tetapi saya pikir pada akhirnya itu akan terjadi, hanya saja mungkin tidak segera,” ujarnya dalam wawancara pada Jumat (13/3/2026).
Pernyataan terbaru ini muncul setelah sebelumnya Trump memberikan sejumlah pernyataan berbeda terkait perkembangan perang melawan Iran. Ia sempat mengklaim bahwa Amerika Serikat “menang” dalam konflik tersebut dan menyebut perang bisa berakhir “sangat segera”.
Namun dalam beberapa hari terakhir, Trump kembali menyampaikan sikap yang menegaskan tekad Amerika Serikat untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
Pada Jumat (13/3/2026), Trump juga mengancam akan melancarkan serangan lanjutan setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, memberi sinyal perlawanan dan menyatakan tidak akan melonggarkan sikap dalam perang yang telah memicu gangguan terhadap pasokan energi serta pasar global tersebut.
Konflik ini bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.
Dalam konflik tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, dilaporkan tewas. Setelah itu, putranya, Mojtaba Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.










