Tren Looksmaxxing Ramai di Media Sosial, Pakar Peringatkan Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Simetrisnews – Media sosial belakangan diramaikan dengan tren baru bernama looksmaxxing, terutama di kalangan pria muda yang ingin memaksimalkan penampilan agar terlihat lebih menarik. Meski sekilas tampak seperti upaya memperbaiki diri, para ahli kesehatan mental memperingatkan tren ini berpotensi memicu standar kecantikan yang tidak realistis.
Dilansir dari Healthline, looksmaxxing merupakan tren yang mendorong seseorang untuk mengoptimalkan penampilan fisik agar mendekati standar wajah dan tubuh yang dianggap ideal. Tren ini banyak berkembang di media sosial dan forum daring yang membahas berbagai cara untuk menjadi lebih menarik secara fisik, mulai dari perawatan diri sederhana hingga prosedur kosmetik ekstrem.
Sebagian orang menganggap looksmaxxing sebagai bentuk pengembangan diri. Namun menurut konselor sekaligus pendiri Phoenix Men’s Counseling, Jason Fierstein, tren ini dapat memicu gangguan persepsi tubuh atau Body Dysmorphic Disorder yang dipengaruhi media sosial. Ia menilai banyak pria muda merasa harus terus memperbaiki penampilan karena merasa tidak cukup menarik dibandingkan standar yang mereka lihat di internet.
Dalam tren ini, terdapat beberapa istilah yang sering muncul, yaitu softmaxxing dan hardmaxxing. Softmaxxing merujuk pada cara meningkatkan penampilan melalui perubahan ringan seperti rutinitas skincare, merawat rambut dan jenggot, olahraga, diet, hingga memperbaiki gaya berpakaian. Metode ini umumnya berkaitan dengan perawatan diri sehari-hari.
Sementara itu, hardmaxxing mengacu pada metode yang lebih ekstrem untuk mengubah penampilan. Contohnya termasuk operasi hidung, botox, transplantasi rambut, hingga operasi rahang atau dagu. Bahkan beberapa praktik ekstrem yang beredar di internet dinilai berbahaya, seperti memukul wajah untuk mengubah bentuk tulang.
Secara umum, looksmaxxing menjadi konsep besar yang mencakup berbagai metode tersebut dengan tujuan mencapai standar wajah atau tubuh tertentu yang dianggap ideal.
Para ahli menilai tren ini populer di kalangan remaja dan pria muda karena mereka sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Pada tahap ini, banyak orang mencoba memahami gambaran maskulinitas yang dianggap ideal, sementara media sosial sering menampilkan standar tertentu tentang bagaimana pria seharusnya terlihat.
Selain itu, tren ini juga kerap dikaitkan dengan budaya internet yang membahas maskulinitas dan hubungan dengan perempuan. Meningkatnya rasa kesepian dan masalah kesehatan mental di kalangan pria muda juga disebut turut mendorong berkembangnya tren tersebut.
Pakar menegaskan tidak ada yang salah dengan merawat diri atau ingin tampil menarik. Namun masalah muncul ketika keinginan tersebut berubah menjadi obsesi terhadap penampilan.
Jika seseorang terus merasa penampilannya tidak pernah cukup baik, mereka berisiko terjebak dalam siklus membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu kecemasan berlebih, ketidakpuasan terhadap tubuh, hingga perilaku ekstrem untuk mengubah penampilan.
Karena itu, para ahli menyarankan agar masyarakat tetap memprioritaskan kesehatan mental dan penerimaan diri, daripada sekadar mengejar standar kecantikan yang belum tentu realistis di media sosial.













