Tak Ingin Hanya Jadi Pasar, Prabowo Dorong Indonesia Punya Pabrik Mobil Sendiri
Simetrisnews – Presiden Prabowo Subianto berencana mendorong Indonesia memiliki pabrik mobil sendiri. Langkah ini diambil karena selama ini Indonesia dinilai hanya menjadi pasar bagi produsen otomotif dari luar negeri.
Baca Juga :
- Kapolda Jabar Prediksi Puncak Arus Balik Mulai 24 Maret, Terbagi Dua Gelombang
- Kakorlantas Imbau Pemudik Tak Istirahat di Bahu Jalan, One Way Nasional Dimulai 24 Maret
- China Peringatkan Eskalasi Timur Tengah, Serangan Tambahan Bisa Picu Krisis Tak Terkendali
- Prabowo Tekankan Reformasi Total Birokrasi, Dirjen Nakal Akan Ditindak
- Status Tahanan Rumah Yaqut Disorot, KPK Dibandingkan dengan Kasus Lukas Enembe
Saat ini, industri otomotif dalam negeri didominasi oleh merek asing dari Jepang, Korea Selatan, Eropa, hingga China. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), merek lokal yang tercatat hanya Polytron.
Namun demikian, Polytron diketahui belum memiliki pabrik mobil sendiri. Perakitan mobil listriknya masih dilakukan di fasilitas milik PT Handal Indonesia Motor.
Dorong Hilirisasi Industri Otomotif
Prabowo menegaskan Indonesia perlu membangun industri otomotif dari hulu ke hilir, termasuk mengolah bahan mentah menjadi produk jadi di dalam negeri.
“Saya akan buka pabrik mobil. Kenapa kita jadi pasar mobilnya orang lain?” ujar Prabowo.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk mendukung produksi kendaraan, seperti timah dan bauksit yang dapat diolah menjadi aluminium sebagai bahan baku mobil.
Ia juga membandingkan dengan negara lain seperti Jepang dan Korea Selatan yang mampu membangun industri otomotif kuat meski tidak memiliki sumber daya alam sebanyak Indonesia.
“Kita punya bauksit untuk aluminium, tapi tidak kita olah. Jepang tidak punya bauksit, tapi bisa bikin mobil terbaik,” katanya.
Target Mobil Nasional
Rencana pembangunan pabrik mobil nasional ini bukan hal baru. Prabowo sebelumnya telah menargetkan Indonesia mampu memproduksi mobil sendiri dalam waktu sekitar tiga tahun.
Proyek tersebut disebut sudah mulai berjalan dan menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Dengan langkah ini, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi produsen utama di industri otomotif global.













