SKB 7 Menteri Atur Penggunaan AI di Sekolah: Ada Zona Merah, Kuning, dan Hijau

Simetrisnews – Pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri menetapkan pedoman resmi pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) pada pendidikan formal, nonformal, dan informal. Dalam pedoman ini, penggunaan AI di sekolah tidak sepenuhnya bebas—bahkan ada momen tertentu di mana AI dilarang total.

Guru dan pendidik diwajibkan mengomunikasikan secara eksplisit kebijakan pemanfaatan AI pada setiap tugas dan penilaian, baik di awal tahun ajaran maupun di awal setiap unit pembelajaran.

Pedoman ini mengadopsi kerangka internasional dengan pembagian tiga zona pemanfaatan AI: Zona Merah, Zona Kuning, dan Zona Hijau.

🔴 Zona Merah: AI Dilarang Total
Pada zona ini, murid wajib mengerjakan tugas secara mandiri tanpa bantuan AI maupun teknologi digital.

Contoh kegiatan:

  • Ujian harian
  • Ujian tengah semester
  • Ujian akhir semester
  • Tugas yang mengukur pemahaman konseptual fundamental

🟡 Zona Kuning: AI Boleh, Tapi Sangat Terbatas

AI diperbolehkan hanya pada tahap tertentu, dan hasil akhir tetap harus merupakan karya orisinal siswa.

Contoh penerapan pada tugas esai:

  • AI hanya boleh digunakan untuk brainstorming ide dan membuat kerangka
  • AI tidak boleh digunakan untuk menulis paragraf
  • Siswa wajib mencantumkan keterangan penggunaan AI
  • Siswa melampirkan surat pernyataan integritas

🟢 Zona Hijau: AI Dianjurkan dengan Refleksi Kritis

Pada zona ini, AI justru dianjurkan untuk melatih kolaborasi manusia–mesin dan kemampuan berpikir kritis.
Contoh kegiatan:

  • Menganalisis output yang dihasilkan AI
  • Membandingkan jawaban dari berbagai platform AI
  • Menyusun presentasi dengan bantuan AI untuk pencarian data dan visualisasi

Jika siswa melanggar ketentuan, satuan pendidikan dapat menjatuhkan sanksi sesuai tingkat pelanggaran:

  1. Teguran lisan atau tertulis
  2. Pengurangan nilai
  3. Nilai nol pada tugas terkait
  4. Pemanggilan orang tua/wali
  5. Sanksi akademik lainnya

Guru didorong mengubah pola penugasan dengan menilai proses berpikir, bukan sekadar hasil akhir.

Siswa dapat diminta untuk:

  • Menyerahkan draf awal, catatan riset, atau jurnal refleksi
  • Melakukan presentasi lisan dan menjelaskan alur pemikiran
  • Mengerjakan tugas berbasis analisis mendalam dan evaluasi kritis

Siswa Wajib Paham Keterbatasan AI

Murid juga harus dilatih memahami bahwa AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, bias, atau “halusinasi”.

Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk:
Memverifikasi jawaban AI dari sumber kredibel seperti jurnal, buku teks, atau situs resmi institusi

Mengidentifikasi potensi bias informasi
Mengevaluasi relevansi dan kualitas informasi secara kritis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup