Riset FISIP UI Soroti Kendala Program MBG, Menu Dinilai Hambar hingga Distribusi Tak Tepat Waktu


Simetrisnews — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan setahun kembali menjadi sorotan. Selain isu keracunan, temuan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menyebut hanya 17% menu MBG memenuhi target Angka Kecukupan Gizi (AKG).


Penelitian terbaru dari Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia dilakukan pada Juni–September 2025 di lima SD wilayah DKI Jakarta. Hasilnya, distribusi makanan dinilai belum optimal.
Peneliti menemukan kasus makanan diantar terlalu pagi, sekitar pukul 04.00–05.00 WIB, sehingga sudah dingin saat dikonsumsi. Sebaliknya, ada pula yang tiba pukul 09.30 WIB dan mengganggu jam belajar.


Selain itu, orang tua siswa di beberapa sekolah turut membantu menghitung, membagikan, hingga mengumpulkan kembali ompreng MBG, terutama di sekolah bertingkat.


Dari sisi konsumsi, tim mencatat hanya sekitar empat hingga lima siswa per kelas yang menghabiskan makanan tanpa sisa. Alasan umum siswa adalah kenyang atau tidak menyukai menu. Peneliti juga menilai beberapa makanan terasa hambar.


Ketua tim peneliti, Dian Sulistiawati, menyebut minimnya sosialisasi membuat guru kurang memiliki rasa kepemilikan terhadap program. Sekolah juga tidak mengetahui alasan penunjukan sebagai penerima MBG.


Peneliti merekomendasikan perbaikan distribusi, kualitas rasa, serta edukasi gizi dan komunikasi program agar pelaksanaan MBG lebih efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
error: Halo