REI DKI Jakarta Dorong Pengembang Properti IPO, Tak Lagi Bergantung pada Pembiayaan Bank

Simetrisnews – DPD Real Estat Indonesia DKI Jakarta mendorong para pengembang properti untuk mulai melirik penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Langkah ini dinilai penting agar pengusaha properti tidak terus bergantung pada pembiayaan perbankan di tengah dinamika pasar yang kian menantang.

Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F Iskandar, mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir sektor perbankan cenderung lebih berhati-hati menyalurkan kredit ke industri properti, terutama pascapandemi. Kondisi tersebut berdampak pada semakin ketatnya persetujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun Kredit Pemilikan Apartemen (KPA).

“Industri properti memiliki siklus proyek yang panjang dan kebutuhan modal kerja yang besar. Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, ketergantungan pada pembiayaan perbankan saja tidak lagi cukup untuk menopang pertumbuhan jangka panjang,” ujar Arvin dalam keterangan tertulis, Rabu (25/2/2026).

Ia menjelaskan, selama ini struktur pembiayaan pengembang umumnya bertumpu pada sekitar 30 persen modal sendiri dan 70 persen pinjaman bank. Jika pola ini terus dipertahankan tanpa diversifikasi, pengembang berisiko tertinggal oleh perkembangan zaman.

Karena itu, REI DKI Jakarta menggandeng PT Bursa Efek Indonesia untuk menggelar workshop dan sosialisasi pasar modal. Upaya tersebut bertujuan mendorong pengembang, khususnya skala menengah, memanfaatkan IPO sebagai alternatif pembiayaan jangka panjang.

“Kami memahami masih ada keraguan, terutama karena proses go public dianggap kompleks dan menuntut transparansi tinggi. Padahal, akses ke pasar modal sebenarnya sangat terbuka,” jelas Arvin.

REI DKI Jakarta menargetkan sekitar 5 persen pengembang skala menengah anggotanya dapat melangkah ke pasar modal pada periode 2026–2028, atau setara dengan sekitar 25 perusahaan.

Dengan estimasi dana IPO Rp100–200 miliar per perusahaan, potensi dana yang terhimpun diperkirakan bisa mencapai sedikitnya Rp5 triliun.

Saat ini, terdapat sekitar 92 perusahaan properti yang telah tercatat di bursa. REI DKI Jakarta berharap angka tersebut terus bertambah dari kalangan anggotanya.
“Kami meyakini pasar modal bukan hanya alternatif pembiayaan, tetapi juga sarana meningkatkan kredibilitas, tata kelola, dan daya saing perusahaan properti,” tegas Arvin.

Di sisi lain, Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi, menilai sektor properti memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Pertumbuhan sektor ini berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja serta efek berganda ke sektor lain seperti konstruksi, perbankan, dan industri bahan bangunan.

“Potensinya masih sangat besar. Banyak pengembang memiliki kapasitas untuk scale up, namun terkendala akses pembiayaan. Di sinilah pasar modal dapat menjadi katalis,” ujarnya.

Ia mencontohkan perjalanan pendanaan Bumi Serpong Damai Tbk yang menunjukkan bahwa IPO bukan tujuan akhir, melainkan awal strategi pendanaan jangka panjang. Setelah melantai di bursa, perusahaan tetap aktif memanfaatkan berbagai instrumen pasar modal, termasuk obligasi dan DIRE/REITs.

“Pasar modal menyediakan instrumen yang beragam, mulai dari saham, obligasi, sukuk, hingga DIRE/REITs, sehingga perusahaan bisa memperoleh struktur biaya pendanaan yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan bisnis,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup