Purbaya: Harga Minyak Tak Akan Tembus US$200, Isu Resesi Indonesia Dinilai Berlebihan
Simetrisnews – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai gejolak harga minyak dunia akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak akan berujung pada resesi ekonomi Indonesia.
Purbaya meyakini harga minyak dunia tidak akan menembus level ekstrem hingga US$200 per barel seperti yang dikhawatirkan sebagian pihak.
Berbicara di kantornya di Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026), Purbaya menilai negara yang menjadi motor konflik justru mulai merasakan tekanan dari lonjakan harga energi, terutama Donald Trump sebagai Presiden AS.
“Coba anda lihat sekarang saja Amerika sudah kelabakan kan? 100 dolar saja di sana BBM-nya naik hampir 100%, rakyatnya mulai marah. Makanya si Trump langkahnya agak berbeda kan? Bisa sampai US$150? Jatuh Trump sudah. Bukan kita yang jatuh, tetapi di sana. Kalau kita masih dijaga di sini,” kata Purbaya.
Ia juga mengkritik pernyataan sejumlah ekonom yang menyebut Indonesia berpotensi mengalami resesi akibat kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, narasi tersebut bukan bentuk kritik konstruktif, melainkan menciptakan sentimen ketakutan di masyarakat.
“Saya nggak anti kritik, nggak apa-apa, tetapi jangan bilang begini ‘dua bulan lagi ekonomi Indonesia akan hancur, akan resesi karena harga minyak akan US$200 per barel, rupiah akan berapa puluh ribu’. Ya kalau harga minyak US$200 per barel, semua dunia resesi. Tenang saja, nggak usah pusing,” tambahnya.
Purbaya menegaskan, analisis ekonomi seharusnya berbasis pada perhitungan yang jelas, menggunakan data historis serta proyeksi yang terukur, bukan sekadar asumsi yang memicu kepanikan publik.













