Prabowo Dorong Swasembada Energi, Indonesia Kembangkan BBM dari Sawit hingga Tebu
Simetrisnews – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mewujudkan swasembada energi di tengah ancaman terganggunya pasokan bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Timur Tengah.
Menurut Prabowo, Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksi bahan bakar dari sumber nabati seperti kelapa sawit, singkong, jagung, hingga tebu.
“Masalah BBM, bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada energi. Kita memiliki karunia besar dari Yang Maha Kuasa bahwa kita nanti mampu kebutuhan BBM kita bukan dari impor luar negeri.
Bahkan dari tanaman-tanaman kita, dari kelapa sawit, dari singkong, dari jagung, dari tebu,” ujar Prabowo dalam pidatonya secara virtual, Senin (9/3/2026).
Salah satu program yang terus dikembangkan adalah biodiesel berbasis kelapa sawit. Saat ini Indonesia sudah menerapkan campuran solar dengan 40 persen minyak nabati dari kelapa sawit atau dikenal sebagai B40.
Pemerintah juga berencana meningkatkan campuran tersebut menjadi B50 pada tahun ini. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
Selain biodiesel, pemerintah juga mengembangkan bioetanol yang merupakan campuran bensin dengan etanol berbahan dasar tebu. Saat ini produk bensin Pertamax Green 95 dari PT Pertamina (Persero) telah menggunakan campuran etanol sekitar 5–7 persen.
Ke depan, pemerintah menargetkan porsi etanol dalam bensin tersebut dapat ditingkatkan hingga 10 persen dalam beberapa tahun mendatang.
Indonesia juga mulai mengembangkan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakar ini diolah dari minyak jelantah atau used cooking oil dan diproyeksikan menjadi alternatif pengganti avtur di masa depan.
Meski belum digunakan secara luas, uji coba penggunaan SAF pada penerbangan telah dilakukan sebagai bagian dari pengembangan energi hijau nasional.
Upaya percepatan energi alternatif ini disampaikan Prabowo di tengah meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Ketegangan tersebut bahkan membuat Iran menutup jalur strategis Selat Hormuz yang selama ini menjadi rute sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia.
Situasi tersebut mendorong lonjakan harga minyak global hingga menembus sekitar US$110 per barel. Angka itu jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang hanya dipatok sekitar US$70 per barel.













