Simetrisnews – Keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) memesan 25 ribu unit motor listrik EMMO untuk operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai sorotan. Pasalnya, produsen tersebut dikabarkan belum memiliki jaringan bengkel yang memadai di Indonesia.
Berdasarkan informasi di laman resminya, EMMO saat ini hanya memiliki satu dealer di Grogol, Jakarta Barat. Bahkan, fasilitas tersebut disebut belum sepenuhnya rampung. Showroom masih terlihat kosong, sementara bengkel disebut belum tersedia.
Padahal, ribuan unit motor listrik itu akan disebar ke SPPG di seluruh Indonesia. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait kesiapan layanan purna jual jika kendaraan mengalami kerusakan di luar Jakarta.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Pasaribu, menilai faktor reliabilitas jangka panjang, ketersediaan suku cadang, dan jaringan after-sales menjadi sangat krusial untuk proyek berskala nasional.
“Untuk proyek Rp 1,2 triliun yang melibatkan 21.801 unit operasional lapangan di seluruh Indonesia, faktor reliabilitas jangka panjang, suku cadang, dan after-sales sangat krusial,” ujarnya.
Ia menilai, jika jejaring purna jual dan ketersediaan komponen tidak siap, maka risiko downtime akan lebih tinggi dibandingkan merek yang sudah memiliki jaringan 3S (sales, service, sparepart) luas di daerah.
Yannes juga menyoroti status EMMO sebagai merek yang relatif baru berdiri pada 2021, dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang masih berada di angka 48,5 persen. Menurutnya, kondisi tersebut membuat nilai tambah ekonomi di dalam negeri menjadi terbatas.
“Jelas tidak sepenuhnya ideal meski legal via e-Katalog LKPP. Emmo relatif baru, jaringan service masih terbatas, dan TKDN hanya 48,5% sehingga nilai tambah ekonomi rendah,” ungkapnya.
Selain soal jaringan, pemilihan model motor listrik jenis trail juga dinilai kurang ergonomis. Meski secara fungsi dinilai cocok untuk medan berat di wilayah 3T, desain tersebut dianggap kurang nyaman bagi sebagian pengendara, terutama perempuan yang lebih terbiasa menggunakan skuter matik.
“Secara fungsional motor trail bisa diterima karena dirancang untuk medan berat. Tapi dari sisi ergonomis, kenyamanan, dan kesesuaian budaya, kurang ideal. Terutama bagi pengendara perempuan yang terbiasa dengan skutik kecil,” tuturnya.
Sorotan ini menambah daftar kritik terhadap pengadaan kendaraan operasional MBG yang sebelumnya juga menuai kontroversi dari sisi harga dan spesifikasi.
