Pertahanan Udara Saudi Cegat Lebih dari 60 Drone dalam Semalam
Simetrisnews – Sistem pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat lebih dari 60 drone yang diluncurkan ke wilayahnya sepanjang malam, termasuk puluhan drone yang dihancurkan di ibu kota Riyadh dan wilayah Eastern Region. Hal itu diumumkan oleh Kementerian Pertahanan Saudi pada Senin (16/3/2026).
Juru bicara kementerian, Turki al-Maliki, mengatakan sebanyak 34 drone juga berhasil dicegat dan dihancurkan di Eastern Region hanya dalam kurun waktu dua jam pada Minggu (15/3). Informasi tersebut disampaikan kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA) dan dilaporkan kembali oleh Al Arabiya.
Sebelumnya pada hari yang sama, otoritas Saudi juga mengungkapkan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah mencegat dan menghancurkan 25 drone lain yang memasuki wilayah udara negara itu sepanjang malam.
Dilaporkan oleh Anadolu Agency, Kementerian Pertahanan Saudi menyebut drone-drone tersebut terdeteksi memasuki wilayah udara negara itu sejak Sabtu malam dan langsung dihancurkan oleh sistem pertahanan udara.
Namun, otoritas tidak memberikan rincian mengenai lokasi peluncuran drone tersebut maupun apakah serangan itu menyebabkan kerusakan atau korban jiwa.
Serangkaian serangan drone dan rudal di kawasan Teluk meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Sebagai balasan, Iran kemudian menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat serta lokasi-lokasi strategis di negara-negara Teluk.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengklaim telah menggempur Pangkalan Udara Prince Sultan di kota Al-Kharj, Arab Saudi. Pangkalan tersebut diketahui menjadi salah satu lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat di negara tersebut.
Pada Minggu (15/3), Kementerian Pertahanan Saudi juga mengumumkan peluncuran layanan pelaporan melalui aplikasi Tawakkalna. Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat melaporkan penampakan objek udara mencurigakan.
Layanan tersebut memungkinkan warga dan penduduk di Arab Saudi melaporkan objek udara seperti drone atau rudal agar laporan dapat diterima secepat mungkin oleh otoritas, menurut SPA.
Dengan sistem ini, pihak berwenang diharapkan dapat merespons lebih cepat untuk melindungi wilayah serta sumber daya negara dari potensi ancaman udara.










