Simetrisnews – Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran dinilai memberi tekanan nyata pada ketahanan ekonomi Indonesia. Salah satu dampak paling langsung adalah lonjakan harga minyak dunia, yang berat bagi Indonesia sebagai negara importir minyak, sementara pemerintah memilih tidak menaikkan harga BBM.
Ekonom Ariyo DP Irhamna menyebut ada empat guncangan global yang saat ini menekan perekonomian nasional.
“Eskalasi Timur Tengah diperkirakan menaikkan harga minyak sekitar US$10 per barel dan menekan Current Account Deficit (CAD) Indonesia senilai US$3–4 miliar yang langsung terasa di neraca pembayaran,” ujarnya dalam Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita bertema Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global, Rabu (8/4/2026).
Menurut Ariyo, selain lonjakan harga minyak, tiga tekanan lain juga terjadi bersamaan:
- Ketidakpastian tarif AS untuk Indonesia
Tarif yang sempat disebut turun dari 32% menjadi 19% hingga kini belum memiliki kepastian mekanisme.
- Banjir produk China di pasar domestik
Produk baja, elektronik, hingga tekstil asal China dinilai masih membanjiri pasar Indonesia meski ada upaya pengetatan.
- Decoupling teknologi China–AS
Indonesia berada di posisi terjepit karena 34% impor mesin berasal dari China, sementara sekitar US$12–13 miliar ekspor Indonesia bergantung pada pasar AS.
Capital Outflow Terburuk 20 Tahun
Sorotan lain datang dari mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah. Ia menilai dampak konflik Timur Tengah memperparah tekanan yang sudah lebih dulu ada di sektor keuangan.
“Capital outflow Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 20 tahun. Sejak era Prabowo, perlahan mereka yang memiliki dana, baik domestik maupun asing, memindahkan dananya ke luar negeri dan belum kembali,” ujar Halim.
Menurutnya, perang Iran melawan AS–Israel hanya memperbesar risiko yang sudah ada di sistem keuangan nasional.
Pertumbuhan 5% Dinilai Mulai Dipertanyakan
Halim juga menyinggung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama 15 tahun terakhir cenderung stagnan di kisaran 5% per tahun.
“Jarang ada negara yang growth-nya stagnan di angka yang sama selama itu. Ini bisa memunculkan keraguan terhadap kredibilitas angka pertumbuhan tersebut,” katanya.
Kondisi ini dinilai menjadi alarm bahwa tekanan global, gejolak geopolitik, dan persoalan struktural domestik kini bertemu dalam waktu bersamaan, menguji resiliensi ekonomi Indonesia secara serius.
