Perang AS-Israel vs Iran Diprediksi Berkepanjangan, Ekonomi Indonesia Terancam Terguncang

Simetrisnews – Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran diperkirakan berlangsung cukup lama dan berpotensi mengguncang perekonomian global, termasuk Indonesia. Dampak utama yang dikhawatirkan adalah lonjakan harga energi serta gangguan rantai pasok dunia.

Hal tersebut disampaikan Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah. Ia menilai kerentanan pertama yang muncul dari konflik ini adalah terbatasnya cadangan dan suplai energi global, mengingat kawasan Timur Tengah merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia.

Menurut Piter, situasi semakin rumit karena konflik memicu gangguan di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20–30 persen perdagangan minyak dunia.

Gangguan di jalur ini dapat memicu guncangan pada rantai pasok energi global yang akhirnya mendorong harga minyak melonjak.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik tidak hanya mengganggu jalur pelayaran, tetapi juga berpotensi menyerang fasilitas produksi energi seperti kilang minyak yang dapat memperparah krisis pasokan global.

Dalam skenario terburuk, harga minyak dunia bahkan diperkirakan dapat menyentuh hingga US$150 per barel.

Meski sempat turun di bawah US$100 per barel, penurunan itu terjadi setelah adanya sentimen positif dari International Energy Agency yang berencana melepas 400 juta barel minyak guna menutup kekurangan pasokan akibat penutupan jalur distribusi energi.

Selain harga energi, konflik juga diprediksi memicu kenaikan biaya logistik global. Hal ini terjadi karena jalur perdagangan internasional menjadi lebih berisiko sehingga biaya pengiriman barang meningkat.

Menurut Piter, kenaikan biaya logistik tersebut akan memukul aktivitas perdagangan global, termasuk ekspor dan impor. Kondisi ini berpotensi mengganggu perekonomian Indonesia yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor untuk sektor industri.

“Biaya pengiriman pasti naik dan akses perdagangan juga makin sulit. Aktivitas ekspor-impor dunia akan turun dan ini pasti berdampak pada ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Tiga Skenario Kebijakan Pemerintah
Dalam menghadapi lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik, Piter menilai pemerintah memiliki tiga pilihan kebijakan.

Pertama, pemerintah dapat membiarkan harga bahan bakar dalam negeri mengikuti mekanisme pasar global tanpa intervensi.

Langkah ini membuat pemerintah tidak perlu menambah subsidi energi, namun berisiko memicu inflasi tinggi yang dapat menekan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Kedua, pemerintah menahan kenaikan harga bahan bakar sepenuhnya melalui subsidi besar. Kebijakan ini dapat menjaga stabilitas ekonomi domestik, tetapi akan memberikan tekanan berat pada anggaran negara.

Sementara skenario ketiga adalah pemerintah menanggung sebagian kenaikan harga energi melalui subsidi, sementara sebagian lainnya diteruskan ke konsumen melalui penyesuaian harga bahan bakar.

Menurut Piter, skenario ketiga menjadi opsi paling realistis karena dapat menyeimbangkan stabilitas ekonomi dan kemampuan fiskal pemerintah.

Meski begitu, ia menilai ekonomi Indonesia tetap akan merasakan dampak dari konflik global tersebut. Yang menjadi fokus utama adalah bagaimana pemerintah mampu menekan dampak negatifnya agar tidak terlalu besar terhadap perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
error: Halo