Pemerintah Sepakati Impor Pertanian AS Rp75 Triliun, Tegaskan Bukan Pakai APBN
Simetrisnews – Indonesia menyepakati impor produk pertanian Amerika Serikat senilai US$ 4,5 miliar atau setara Rp 75,39 triliun (kurs Rp 16.754) dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–AS. Pemerintah menegaskan komitmen tersebut bukan pembelian yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyebut kesepakatan ini bertujuan memperlancar kerja sama business-to-business (B2B) antara pelaku usaha Indonesia dan AS.
Baca Juga:
- Harga BBM VIVO Naik per Maret 2026
- Harga BBM Pertamina Naik Mulai 1 Maret 2026, Pertamax Tembus Rp12.300 per Liter
- PT Bank Central Asia Tbk Siapkan Rp65,7 Triliun untuk Penukaran UPK Ramadan dan Idulfitri 1447 H
- Pemerintah Sepakati Impor Pertanian AS Rp75 Triliun, Tegaskan Bukan Pakai APBN
- Menteri PU Targetkan Pantura Barat Bebas Lubang Jelang Mudik 2026
“Keputusan transaksi dan pembiayaan sepenuhnya berada pada sektor swasta,” ujar Haryo dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
AS Mitra Dagang Strategis
Amerika Serikat merupakan mitra dagang strategis dan tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia. Pada 2025, ekspor Indonesia ke AS tercatat mencapai US$ 31,0 miliar atau sekitar 11% dari total ekspor nasional sebesar US$ 282,9 miliar.
Menurut Haryo, menjaga akses pasar AS melalui pendekatan perdagangan yang seimbang menjadi langkah rasional untuk melindungi daya saing produk nasional sekaligus memperkuat industri dalam negeri.
Impor Berbasis Kebutuhan Industri
Ia menjelaskan, Indonesia selama ini mengimpor sejumlah komoditas seperti gandum untuk bahan baku industri pengolahan, termasuk makanan olahan berorientasi ekspor. Dengan opsi pasokan yang lebih luas dan kompetitif, pelaku usaha dapat memperoleh bahan baku stabil dan harga bersaing.
Data 2025 menunjukkan total impor pertanian Indonesia dari AS sekitar US$ 1,21 miliar, sementara impor komoditas serupa dari berbagai negara lain mencapai US$ 13,2 miliar. Artinya, porsi impor dari AS baru sekitar 9,2%.
Sebagai contoh, impor sereal (HS10) dari AS senilai US$ 375,9 juta dari total US$ 3,7 miliar (sekitar 10%). Sementara untuk kedelai (HS12), impor dari AS hanya sekitar US$ 1 juta dari total US$ 1,6 miliar.
Pemerintah menilai ruang penyesuaian pasokan tetap berbasis pertimbangan komersial tanpa menimbulkan beban fiskal.
Didukung Kadin dan APINDO
Komitmen tersebut telah ditindaklanjuti melalui Nota Kesepahaman (MoU) dalam dua tahap, yakni pada 7 Juli 2025 dan dalam forum Indonesia–AS Business Summit pada 19 Februari 2026. Kerja sama ini turut didukung Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
“Fasilitasi ini merupakan bagian dari strategi memperkuat akses pasar sekaligus mendukung rantai nilai industri nasional, dengan tetap berorientasi pada kepentingan ekonomi dan kedaulatan nasional,” tegas Haryo.
Pemerintah memastikan seluruh impor tetap memenuhi standar mutu dan keamanan yang berlaku, serta siap mengambil langkah sesuai regulasi apabila terjadi gangguan pada pasar domestik.














Tinggalkan Balasan