MUI Ingatkan Tradisi Bangunkan Sahur Pakai Toa Agar Tak Ganggu Warga, Ini Imbauannya
Simetrisnews – Menyusul banyaknya orang yang cukup terganggu dengan kebisingan masyarakat dalam membangunkan sahur, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar tradisi dengan pengeras suara seperti toa dilakukan seperlunya saja.
Hal ini dikemukakan Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis, khususnya jika kondisi daerah tersebut padat penduduk dan banyak ditempati non muslim. Jangan sampai tradisi itu menggangu orang yang tidak berpuasa, khususnya non muslim.
“Jika dilakukan pakai (toa) masjid seperlunya saja. Misalnya pada jam-jam sahur setengah 4, tapi jangan terlalu keras. Di daerah padat (penduduk) dan banyak (non muslim) tentu diukur sebaiknya yang tidak mengganggu orang yang tidak berpuasa,” katanya dikutip dari situs resmi MUI, Sabtu (21/2/2026).
Kiai Cholil –sapaan akrabnya– mengimbau masyarakat agar terus menghidupakn tradisi membangunkan sahur. Menurut penuturannya, tradisi itu harus dilakukan secara bijak, khususnya saat menggunakan pengeras suara.
“Bangunkan seperlunya. Penggunaan speaker, pengeras suara, (dilakukan) pada waktu yang dibutuhkan,” sambungnya.
Secara terpisah, beberapa waktu lalu Kiai Cholil juga menjelaskan membangunkan sahur sebaiknya dilakukan secara bertahap dan diberi jeda. Hal itu penting untuk menjaga kenyamanan warga.
“Seperti mulai jam 03.30 WIB untuk dibangunkan bermassa. Kemudian setelah itu nanti hanya 04.00 WIB, 04.30 WIB. Tetapi tidak harus terus-menerus dengan speaker yang kencang, mengganggu yang lain,” terangnya kepada wartawan, dikutip dari detikNews pada Jumat (20/2/2026).
Kiai Cholil juga mengimbau agar masyarakat yang membangunkan sahur harus memperhatikan kesesuaian ajaran Islam. Menurutnya, budaya membangunkan sahur dengan berkeliling tidak boleh sampai mengganggu orang lain.











