Mentan Amran: Ancaman Pangan Datang dari Geopolitik dan El Nino, Pemerintah Siapkan Antisipasi
Simetrisnews – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan ancaman terhadap ketahanan pangan nasional tidak hanya berasal dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Tantangan lain yang perlu diwaspadai adalah potensi kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan mulai terjadi pada April mendatang.
Menurut Amran, pemerintah harus menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni situasi geopolitik global yang memanas serta potensi kekeringan yang diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Jadi ada dua yang kita hadapi, kondisi geopolitik memanas dan pengumuman BMKG ada kekeringan. Ini dua-duanya harus kita jawab,” kata Amran dalam konferensi pers di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
Amran menjelaskan Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman menghadapi El Nino yang jauh lebih kuat, seperti yang terjadi pada 2015–2016 dan 2023. Pada saat El Nino 2023, pemerintah sempat memperkirakan kebutuhan impor beras mencapai sekitar 10 juta ton.
Namun berkat berbagai langkah pengendalian, impor beras akhirnya berhasil ditekan menjadi sekitar 3 juta ton.
“Waktu itu rencana impor 10 juta ton, tapi alhamdulillah kita bisa redam hanya sekitar 3 juta ton lebih,” ujarnya.
El Nino Tahun Ini Diperkirakan Lebih Lemah
Amran menilai fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada tahun ini relatif lebih lemah dibandingkan sebelumnya. Hal itu membuat pemerintah lebih optimistis dalam menghadapi potensi dampaknya terhadap sektor pertanian.
Selain pengalaman menghadapi kondisi serupa, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai infrastruktur untuk mengantisipasi kekeringan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah program pompanisasi yang mampu menjangkau sekitar 1,2 juta hektare lahan pertanian tadah hujan yang berpotensi kekurangan air.
“Di lapangan sudah siap pompanisasi 1,2 juta hektare. Pompa coverage-nya bisa menjangkau lahan tadah hujan yang kekurangan air,” jelasnya.
Tambahan Lahan Irigasi saat Musim Kemarau
Selain pompanisasi, pemerintah juga menyiapkan tambahan sekitar 1 juta hektare lahan yang dapat diairi selama musim kemarau melalui pemanfaatan pompa air, sumur dalam, sumur dangkal, hingga jaringan irigasi.
Dengan berbagai infrastruktur tersebut, total sekitar 2 juta hektare lahan pertanian diproyeksikan dapat tetap dialiri air meskipun terjadi musim kering.
Amran juga menyebut produksi beras nasional saat ini masih berada pada kisaran 2,6 hingga 5,7 juta ton per bulan.
Angka tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional yang berada di sekitar 2,5 juta ton per bulan.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga meskipun menghadapi ketidakpastian global.
“Insyaallah produksi kita aman. Kita sudah punya pengalaman menghadapi El Nino 2015–2016 dan 2023 yang jauh lebih dahsyat dari sekarang, jadi tidak perlu kita risaukan,” tegas Amran.













