Simetrisnews.com

Mengapa Astronaut Sembelit di Luar Angkasa? Ini Penjelasan Ilmiahnya dari Misi Artemis II

Simetrisnews – Perjalanan ke luar angkasa bukan hanya soal roket dan teknologi canggih. Detail kebutuhan biologis astronaut juga dihitung sangat presisi. Pada misi Artemis II misalnya, kit medis awak dilengkapi obat pencahar karena sembelit menjadi keluhan umum di lingkungan tanpa gravitasi.

Beberapa hari pertama setelah berada di lingkungan mikrogravitasi, tubuh astronaut harus beradaptasi dengan kondisi fisik yang sama sekali berbeda dari Bumi. Salah satu dampaknya adalah gangguan sistem pencernaan.

Mengapa Astronaut Mengalami Sembelit?

Di Bumi, proses pencernaan tidak hanya mengandalkan gerakan otot usus (peristaltik), tetapi juga dibantu gaya gravitasi yang “menarik” isi saluran cerna ke bawah.

Sarah Jane Bunger, kepala riset global produk pencahar Dulcolax, mengibaratkan usus seperti kain elastis yang mendorong isi di dalamnya melalui gerakan bergelombang. Gerakan ini disebut peristaltik.

Dalam kondisi tanpa gravitasi, sistem pencernaan kehilangan “bantuan alami” tersebut. Organ pencernaan tetap bekerja, tetapi hanya mengandalkan peristaltik tanpa dukungan gaya tarik gravitasi.

“Itulah mengapa mereka masih bisa menelan, bahkan tanpa bantuan gravitasi. Jadi ada dampak dari kurangnya gravitasi di sana,” jelas Bunger.

Akibatnya, pergerakan feses menjadi lebih lambat dan risiko sembelit meningkat, terutama pada fase awal adaptasi tubuh di luar angkasa.

Misi Artemis II

NASA menjalankan Artemis II sebagai misi berawak pertama dalam program Artemis, yang membawa manusia mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun.

Awak misi terdiri dari:

Misi ini lepas landas dari Kennedy Space Center Launch Complex 39B pada 1 April 2026 pukul 18.35 EDT.

Selama hampir 10 hari, kru menempuh jarak hingga 252.756 mil dari Bumi, dengan pendekatan terdekat sekitar 4.067 mil di atas permukaan Bulan—mencatat rekor baru dalam penerbangan lintas bulan berawak.

Artemis II mendarat di Samudra Pasifik pada 10 April 2026 di lepas pantai San Diego. Setelah evakuasi, para astronaut menjalani evaluasi medis sebelum kembali ke Johnson Space Center di Houston untuk program pemulihan pasca-penerbangan.

Selain evaluasi medis umum, pemantauan sistem pencernaan menjadi salah satu aspek penting yang diamati, mengingat dampak nyata mikrogravitasi terhadap fungsi tubuh manusia.

Fakta ini menunjukkan bahwa dalam eksplorasi luar angkasa, hal sederhana seperti buang air besar pun menjadi perhatian ilmiah yang serius.

Exit mobile version