Laporan Ericsson: Lonjakan AI Ubah Pola Data, Jaringan 5G Jadi Fondasi Utama
Simetrisnews – Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Seiring tren tersebut, jaringan 5G dinilai menjadi fondasi krusial agar masyarakat dapat menikmati berbagai perangkat dan aplikasi berbasis AI secara optimal.
Laporan terbaru Ericsson ConsumerLab 2026 mengungkap pesatnya adopsi AI mendorong perubahan signifikan pada pola penggunaan data seluler. Permintaan uplink meningkat karena pengguna beralih dari konsumsi konten pasif menuju aktivitas kreasi konten yang lebih interaktif.
Selain itu, kecepatan respons AI kini menjadi faktor penting yang memengaruhi tingkat kepuasan pelanggan terhadap jaringan seluler.
Seiring konvergensi AI, cloud, dan mobile, perangkat digital akan semakin sering mengirimkan data ke cloud untuk pembelajaran real-time serta personalisasi layanan. Pada 2030, jumlah pengguna yang memanfaatkan AI di luar perangkat utama seperti smartphone dan laptop diperkirakan meningkat dua kali lipat, meluas ke smartwatch, kacamata pintar, hingga asisten di kendaraan pintar.
Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, menilai kebutuhan jaringan stabil akan semakin krusial di tengah berkembangnya ekosistem AI lintas perangkat.
“Peralihan menuju penggunaan AI di berbagai perangkat membutuhkan performa jaringan yang konsisten di mana pun. Hal ini menuntut operator menghadirkan optimasi jaringan yang mengutamakan kebutuhan AI. Teknologi 5G serta arsitektur yang siap masa depan menjadi krusial untuk mengakomodasi pertumbuhan data dan keperluan uplink yang berkembang pesat,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Secara global, adopsi 5G menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pelanggan 5G diperkirakan mencapai 2,9 miliar pada akhir 2025 dan meningkat menjadi 6,4 miliar pada 2031. Dalam periode tersebut, lebih dari 50% penggunaan data seluler global diproyeksikan didominasi jaringan 5G.
Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital menargetkan cakupan 5G mencapai 32% pada 2030.
Laporan Ericsson Mobility Report mencatat penggunaan data global mencapai 21 GB per smartphone per bulan pada 2025 dan diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya layanan video dan aplikasi berbasis AI.
Di Asia Tenggara dan Oseania, konsumsi data bulanan per smartphone diprediksi mencapai 42 GB pada 2031. Kualitas uplink serta pengalaman aplikasi seperti video call kini menjadi indikator penting kepuasan pengguna, tidak lagi hanya kecepatan unduhan.
Integrasi AI dalam jaringan (AI for networks) serta pemanfaatan jaringan untuk aplikasi AI (Networks for AI) dinilai menjadi kunci layanan yang adaptif, efisien, dan berbasis kebutuhan pengguna.
Di Indonesia, sekitar satu dari lima orang telah menggunakan AI multimodal (teks, suara, gambar) setiap hari. Angka ini diperkirakan meningkat hingga 41% pada 2030. Bahkan, sekitar 46% penggunaan AI diprediksi terjadi di luar rumah atau gedung, menegaskan kebutuhan konektivitas stabil di mana pun.
Jaringan 5G disebut akan memainkan peran strategis dalam mendukung perkembangan AI sekaligus memperkuat ekonomi digital. Teknologi ini juga membuka peluang pengalaman baru seperti AR, VR, serta analitik video real-time, sekaligus menjadi fondasi menuju 6G.
“Dengan kepemimpinan global Ericsson di 5G dan pengalaman implementasi di 206 jaringan 5G aktif di 85 negara, kami berada di posisi yang tepat untuk mendukung operator di Indonesia dalam perjalanan 5G mereka,” kata Ronni.
Survei dalam laporan ini dilakukan pada Juni–Agustus 2025, melibatkan lebih dari 43.000 pengguna smartphone usia 15–69 tahun di 27 negara, termasuk Indonesia. Sekitar 34.000 responden merupakan pengguna aktif 5G.













