Lamine Yamal Tegaskan Identitas Muslim, Kecam Nyanyian Anti-Islam di Stadion

Simetrisnews – Pemain FC Barcelona dan Timnas Spanyol, Lamine Yamal, secara terbuka menyatakan dirinya sebagai seorang muslim sekaligus mengecam aksi diskriminatif bernuansa anti-Islam dalam laga uji coba Spanyol melawan Mesir di Stadion RCDE, Rabu (1/4) dini hari WIB.

Di usia yang masih sangat muda, Yamal tidak ragu menunjukkan jati dirinya. Melalui akun Instagram pribadinya, ia menulis pernyataan singkat namun tegas, “Saya Muslim, Alhamdulillah.”

Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas insiden nyanyian provokatif di stadion yang berbunyi, “Siapa yang tidak melompat, dia adalah Muslim.” Yamal menilai seruan itu tetap tidak pantas meski bukan ditujukan secara personal kepadanya.

“Kemarin di stadion terdengar nyanyian tersebut. Saya tahu itu ditujukan untuk tim lawan dan bukan serangan pribadi terhadap saya. Namun, sebagai seorang muslim, itu tetap tidak sopan dan tidak dapat ditoleransi,” tulis Yamal.

“Sepak bola harus dinikmati dan didukung, bukan untuk menghina orang karena siapa mereka atau apa yang mereka yakini,” sambungnya.

Latar Keluarga dan Warisan Keislaman

Yamal memiliki nama lengkap Lamine Yamal Nasraoui Ebana. Ia lahir pada 13 Juli 2007 di Esplugues de Llobregat, wilayah metropolitan Barcelona.

Dari sisi keluarga, ia memiliki latar belakang budaya yang kuat. Ayahnya berasal dari Larache, Maroko, negara dengan mayoritas penduduk muslim. Sementara ibunya berasal dari Bata, Guinea Ekuatorial.

Peran keluarga, terutama sang nenek dari Maroko, disebut sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai Islam sejak kecil. Yamal bahkan dibiasakan membaca doa tertentu yang masih ia amalkan hingga kini, termasuk sebelum memasuki lapangan pertandingan.

Ia tumbuh di lingkungan multikultural di Mataró, namun identitas keislaman tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupannya.

Ekspresi Iman di Dalam dan Luar Lapangan

Berbeda dengan sebagian atlet yang memilih menyimpan keyakinan secara pribadi, Yamal justru mengekspresikan imannya secara terbuka.

Salah satu momen paling terlihat adalah selebrasi golnya. Seusai mencetak gol, Yamal kerap mengangkat kedua tangannya dengan telapak terbuka sebagai bentuk doa dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Gestur tersebut menjadi simbol hubungan spiritual yang ia jaga di tengah karier profesionalnya.

Ia juga konsisten menyuarakan sikap terhadap isu diskriminasi agama. Baginya, iman bukan sekadar urusan pribadi, melainkan nilai yang layak diperjuangkan di ruang publik.

Komitmen itu terlihat saat Ramadan 2024, ketika Yamal tetap menjalankan ibadah puasa di tengah jadwal latihan bersama tim nasional.

Selain itu, ia mengaku memiliki kedekatan khusus dengan masjid sebagai tempat yang memberinya ketenangan batin di tengah tekanan dunia sepak bola profesional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup