Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Kemasan, Industri Makanan Minuman Waspada
Simetrisnews – Konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada penutupan jalur strategis Selat Hormuz mulai diwaspadai berbagai sektor industri di Indonesia, termasuk industri makanan dan minuman (mamin).
Baca Juga :
- Jaksa Agung Minta Korps Adhyaksa Tak Terjebak Fenomena “No Viral No Justice”
- Menhut Raja Juli Antoni Luncurkan Program Kemenhut Ramah Hewan untuk Lindungi Kucing Jalanan
- Keutamaan Salat Tarawih di 10 Malam Terakhir Ramadan
- BMKG Prediksi Banjir Rob saat Lebaran, Komisi V DPR Minta Pemerintah Siapkan Mitigasi
- KPK Ungkap Peran Bos Maktour dalam Kasus Korupsi Kuota Haji yang Jerat Eks Menag Yaqut
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Putu Juli Ardika, mengatakan tekanan terhadap industri mamin bukan berasal dari konsumsi energi secara langsung, melainkan dari kenaikan biaya logistik dan bahan baku kemasan plastik yang berbasis minyak bumi.
Menurutnya, industri makanan dan minuman tidak termasuk sektor yang sangat bergantung pada energi seperti industri kimia, logam, semen, atau manufaktur berat lainnya.
“Kalau industri kami, penggunaan energi tidak terlalu besar. Mungkin dampaknya lebih terasa di sektor logistik, karena logistik berpengaruh ke semua sektor,” kata Putu saat ditemui di kantor Kemenperin di Jakarta Selatan, Jumat (13/3/2026).
Ia menjelaskan tekanan terbesar justru datang dari bahan kemasan. Banyak produk makanan dan minuman menggunakan plastik berbasis petroleum sebagai bahan kemasan utama. Ketika harga minyak dan bahan baku petrokimia meningkat akibat konflik global, biaya produksi kemasan juga ikut naik.
“Nah sebenarnya yang banyak ada dampaknya di industri kami di makanan dan minuman itu adalah kemasannya. Biasanya dari plastik, dan plastik ini berbasis petroleum,” ujarnya.
Kenaikan biaya kemasan dinilai cukup signifikan karena dalam beberapa produk, nilai kemasan bahkan lebih besar dibandingkan isi produknya. Salah satu contohnya adalah produk Air Minum Dalam Kemasan yang biaya kemasannya bisa lebih dominan dalam struktur harga.
Meski demikian, Putu memastikan dampak kenaikan biaya tersebut belum langsung terasa di pasar karena produk yang saat ini beredar masih berasal dari stok produksi sebelumnya.
Ia juga memastikan ketersediaan produk makanan dan minuman untuk kebutuhan masyarakat menjelang Idul Fitri tetap aman.
“Untuk kebutuhan Lebaran, semuanya sudah terdistribusi. Jadi tidak perlu khawatir,” tegasnya.
Ke depan, Kementerian Perindustrian akan berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil serta pelaku industri kemasan dan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia guna mencari langkah mitigasi menghadapi potensi kenaikan biaya produksi.













