Kemenag Siapkan 6.859 Masjid Jadi Tempat Singgah Pemudik Lebaran 2026
Simetrisnews – Kementerian Agama RI tengah menyiapkan 6.859 masjid di seluruh Indonesia untuk menjadi tempat singgah pemudik selama arus mudik dan balik Lebaran 2026. Program ini direncanakan berlangsung mulai H-7 hingga H+7 Idul Fitri.
Baca Juga :
- PT Karunia Alam Segar Bantah PHK Karyawan, Operasional Mie Sedaap Tetap Normal
- Arsenal vs Manchester City di Final Carabao Cup 2026, Begini Kata Declan Rice
- Persib Bandung Pesta Gol
- Borneo FC Hajar Arema 3-1, Persaingan Puncak Super League Makin Panas
- Cristiano Ronaldo Resmi Jadi Pemilik Almeria, Akuisisi 25 Persen Saham Klub Spanyol
Mengutip situs resmi Kemenag RI, program tersebut digagas Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam melalui Ekspedisi Masjid Indonesia 2026. Masjid-masjid yang berada di jalur mudik akan difungsikan sebagai tempat transit 24 jam bagi para pemudik.
Rencana ini disampaikan saat Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima audiensi Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Jakarta, Senin (23/2/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari penguatan sinergi lintas kementerian guna mewujudkan mudik yang aman dan nyaman.
Kemenag juga melakukan koordinasi internal dari tingkat pusat hingga Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan. Masjid yang terlibat diharapkan menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari ruang istirahat, toilet bersih, air wudu, air minum, pengisian daya ponsel gratis, area parkir, hingga ruang laktasi jika memungkinkan.
Selain itu, masjid diimbau menyediakan takjil dan minuman hangat bagi pemudik yang masih menjalankan ibadah puasa Ramadan, khususnya bagi pengemudi jarak jauh.
“Beristirahat sejenak bisa menyelamatkan nyawa. Kalau sopirnya ngantuk dan tetap memaksa jalan, kecelakaan bisa terjadi,” ujar Menag Nasaruddin.
Tingginya mobilitas pemudik menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor, terutama di jalur Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatra, membuat tingkat kelelahan pengemudi menjadi faktor risiko kecelakaan yang harus diantisipasi. Dalam konteks ini, masjid dinilai memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang pelayanan publik bagi pemudik.
Agar mudah dikenali, masjid yang berpartisipasi akan diberi penanda khusus di jalur utama, sehingga pemudik dapat singgah tanpa ragu.
Menariknya, program ini tidak hanya melibatkan masjid. Sejumlah rumah ibadah lain, termasuk gereja di wilayah Sumatera Utara dan kawasan Indonesia Timur, turut dilibatkan untuk melayani pemudik. Pendekatan ini menegaskan bahwa rumah ibadah merupakan ruang kemanusiaan yang terbuka bagi siapa pun.
“Masjid harus meneladani Masjid Nabi, menerima tamu muslim maupun nonmuslim tanpa diskriminasi. Masjid harus menjadi rumah besar kemanusiaan dan bagian dari strategi menyukseskan manajemen mudik Lebaran,” jelas Nasaruddin yang juga menjabat sebagai Masjid Istiqlal.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memaparkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan skema pengelolaan mudik untuk sekitar 143 juta pemudik. Salah satu fokusnya adalah menyiapkan masjid sebagai tempat singgah, dengan sinkronisasi data bersama Kemenag agar pelaksanaannya berjalan optimal di lapangan.












