Jubir Bantah Tuduhan Penistaan, JK Dinilai Luruskan Makna ‘Mati Syahid’ Saat Damai Poso–Ambon
Simetrisnews — Juru bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, membantah tudingan bahwa JK melakukan penistaan ajaran Kristen terkait pernyataannya soal istilah “mati syahid” yang viral di media sosial.
Menurut Husain, tuduhan itu muncul akibat potongan video yang tidak menampilkan pernyataan JK secara utuh. Ia menegaskan bahwa narasi yang beredar merupakan hasil context cutting.
“Namun setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting). Kami membantah dengan tegas tuduhan itu,” kata Husain, Minggu (12/4/2026).
Husain menjelaskan, pernyataan tersebut disampaikan JK saat berpidato di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada Kamis (5/3/2026).
Dalam konteks lengkapnya, JK menegaskan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk saling membunuh.
Pidato itu, kata Husain, merupakan bagian dari penjelasan JK kepada civitas akademika UGM mengenai pengalamannya mendamaikan konflik Poso dan Ambon lebih dari dua dekade lalu.
“JK menggambarkan usahanya mendamaikan konflik Poso dan Ambon kepada Civitas Akademika UGM. Di mana JK terlebih dahulu meluruskan keyakinan kedua kelompok yang bertikai Islam dan Kristen, bahwa mereka telah bertindak keliru menggunakan jargon agama sebagai alasan pembenar yang menyebabkan ribuan nyawa melayang dari kedua pihak. Dan konflik susah dihentikan,” jelasnya.
Husain menyebut, dalam realitas konflik saat itu, baik kelompok Islam maupun Kristen sama-sama menyerukan narasi “perang suci” dan meyakini bahwa membunuh lawan atau mati dalam pertempuran akan membawa mereka ke surga. Menurutnya, itulah pemahaman keliru yang diluruskan JK kepada para pimpinan lapangan kedua kubu.
“Pandangan keliru kedua pihak inilah yang terlebih dahulu diluruskan Pak JK. Bahwa tidak ada satupun agama yang membolehkan untuk saling membunuh. Ini disampaikan kepada para panglima perangnya saat itu,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa praktik kekerasan saat konflik telah melampaui batas kemanusiaan, dengan korban dari kalangan anak-anak, perempuan, hingga lansia.
Husain mengingatkan bahwa konflik tersebut akhirnya berhasil didamaikan melalui dua perundingan penting yang dimediasi JK, yakni Perundingan Malino I pada 2001 untuk Poso dan Perundingan Malino II pada 2002 untuk Ambon. Dalam proses itu, JK melibatkan tokoh agama Islam dan Kristen, tokoh masyarakat, perwakilan pihak yang bertikai, serta pemerintah.
“Itulah kenapa Pak JK harus meluruskan pemahaman sesat mereka. Fakta sejarah ini dapat dikonfirmasi kepada tokoh-tokoh perundingan damai baik untuk Poso maupun Ambon yang masih hidup,” imbuhnya.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










