Iran Siap Perang Panjang Lawan AS–Israel, Teheran Klaim Akan Bertahan “Berapa Pun Biayanya”
Simetrisnews – Iran menyatakan siap menghadapi perang berkepanjangan melawan Amerika Serikat dan Israel di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa Teheran telah mempersiapkan diri untuk konflik jangka panjang, berbeda dengan strategi Washington.
Ia mengulang sikap resmi pemerintah Iran sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.
“Kami akan mempertahankan diri, berapa pun biayanya,” ujar Larijani.
Konflik memanas setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Iran sejak 28 Februari. Operasi tersebut menargetkan sejumlah pemimpin militer, fasilitas pertahanan, serta gedung pemerintahan.
Walau beberapa pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, pemerintahan teokrasi di Teheran disebut masih mampu bertahan dan tetap menjalankan operasi militernya.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone ke berbagai sasaran di Israel serta sejumlah negara kawasan Teluk, termasuk pangkalan militer AS.
Uni Emirat Arab menyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir ratusan roket dan drone Iran diarahkan ke wilayahnya.
Sementara itu, Kepala Komando Pusat AS, Brad Cooper, menyebut hingga Rabu (4/3) Iran telah menembakkan lebih dari 500 rudal balistik dan 2.000 drone.
“Kami tidak tahu persis berapa banyak rudal balistik dan drone yang sebenarnya dimiliki Iran,” kata seorang pakar persenjataan yang identitasnya dirahasiakan.
Mesin perang Iran masih kuat
Pada hari pertama konflik, militer Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik. Namun jumlah itu diyakini telah berkurang akibat penggunaan dalam serangan balasan serta serangan gabungan AS–Israel terhadap fasilitas penyimpanan senjata.
Beberapa citra satelit yang beredar di media sosial menunjukkan kerusakan pada pangkalan rudal di kota Kermanshah, Karaj, Khorramabad, dan Tabriz.
Foto tersebut memperlihatkan pintu terowongan menuju fasilitas penyimpanan bawah tanah yang runtuh akibat serangan terbaru.
Meski demikian, jumlah peluncur rudal bergerak yang berhasil dihancurkan belum dapat dipastikan. Teknologi pelacakan modern disebut membuat operasi pencarian sistem peluncur lebih efektif dibandingkan beberapa tahun lalu.
Di sisi lain, kemampuan produksi drone Iran dinilai masih sangat besar.
Berdasarkan dokumen Rusia yang bocor, Teheran diperkirakan mampu memproduksi sekitar 5.000 drone setiap bulan.
Salah satu drone yang sering digunakan adalah Shahed drone, yang diproduksi dengan biaya relatif murah, hanya beberapa ribu dolar per unit. Sebagai perbandingan, satu rudal pencegat sistem Patriot missile system bisa mencapai sekitar 3 juta dolar.
Analisis media The New York Times yang menggabungkan citra satelit dan video terverifikasi menunjukkan Iran menyerang setidaknya tujuh pangkalan militer AS di Timur Tengah menggunakan rudal jarak pendek dan drone sepanjang akhir pekan hingga Senin (2/3).
Serangan itu dilaporkan merusak sejumlah fasilitas komunikasi dan radar di sekitar pangkalan. Pola serangan tersebut dinilai sebagai upaya Iran untuk mengganggu kemampuan koordinasi militer Amerika Serikat.
Warga sipil terdampak konflik
Profesor hubungan internasional di London School of Economics, Fawaz Gerges, menilai Iran sengaja memainkan strategi waktu untuk memperpanjang konflik.
“Iran akan berusaha memperpanjang perang dan sedang bermain dengan waktu,” kata Gerges.
Menurutnya, kepemimpinan Iran fokus pada kemampuan bertahan dan menyerap serangan sebelum melanjutkan perlawanan.
Namun dampak paling besar justru dirasakan masyarakat sipil. Serangan yang terjadi di wilayah perkotaan dilaporkan menimbulkan kerusakan besar.
Sumber Iran menyebut sebuah sekolah dasar di Kota Minab, Iran selatan, terkena serangan pada hari pertama perang. Media pemerintah bahkan menayangkan pemakaman massal bagi 168 anak dan guru yang disebut menjadi korban.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut insiden tersebut “sungguh mengejutkan” dan mendesak dilakukannya penyelidikan independen.
Pihak Israel membantah menyerang sekolah yang berada sekitar 40 kilometer dari Teluk Oman tersebut. Sementara Amerika Serikat, yang telah mengerahkan dua gugus kapal induk di kawasan, menyatakan akan menyelidiki laporan tersebut.













