Iran Blokade Selat Hormuz, Pakar Nilai Langkah Ini Bisa Merugikan Iran Sendiri

Simetrisnews – Iran memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel.

Namun sejumlah pakar menilai langkah tersebut berisiko besar bagi Iran sendiri jika dilakukan dalam jangka panjang.
Pakar energi Sara Vakhshouri dari SVB Energy International menyebut penutupan jalur pelayaran penting itu justru bisa berdampak negatif bagi perekonomian Iran.

Menurutnya, Iran sangat bergantung pada impor berbagai barang penting, termasuk pangan, yang sebagian besar juga melewati jalur perdagangan laut tersebut. Selain itu, sebagian besar ekspor minyak Iran dikirim ke China dan India, sehingga blokade berkepanjangan justru dapat menghambat perdagangan negara itu sendiri.

Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, sekitar 20% minyak mentah dunia yang dikonsumsi secara global diangkut melalui Selat Hormuz. Lebih dari 80% pengiriman tersebut menuju kawasan Asia, terutama China, India, dan Jepang.

Media Iran International juga melaporkan bahwa penutupan Selat Hormuz tidak hanya mengganggu pengiriman minyak mentah, tetapi juga distribusi bahan bakar penerbangan dan gas alam cair (LNG). Diperkirakan sekitar 30% bahan bakar penerbangan Eropa serta 20% LNG global melewati jalur ini.

Meski demikian, banyak negara seperti Amerika Serikat, anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan Kanada memiliki cadangan energi strategis yang dapat digunakan untuk menahan gangguan pasokan selama beberapa minggu.

Di sisi lain, ekonomi Iran sangat bergantung pada China sebagai pembeli utama minyaknya. Data dari platform analisis energi Kpler menunjukkan lebih dari 80% ekspor minyak Iran dikirim ke China. Kondisi ini membuat hubungan perdagangan kedua negara menjadi sangat penting bagi kelangsungan ekonomi Iran.

Sanksi Barat terhadap Iran sejak Revolusi Islam Iran 1979 serta pembatasan terkait program nuklirnya juga mempersempit akses Iran terhadap teknologi, investasi, dan pembiayaan internasional. Akibatnya, produksi minyak Iran dalam jangka panjang ikut terdampak.

Analis dari Qatar University, Nikolay Kozhanov, menilai Iran kemungkinan tetap akan hadir di pasar minyak global, tetapi dalam posisi yang lebih lemah karena harus menjual minyak dengan harga diskon untuk mempertahankan volume ekspor.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun blokade Selat Hormuz dapat menjadi tekanan geopolitik bagi dunia, langkah tersebut juga membawa risiko ekonomi yang besar bagi Iran sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
error: Halo