IMI Minta Impor 105 Ribu Mobil Pick Up dari India untuk KDMP Dihentikan
Simetrisnews – Rencana impor mobil pick up dan light truck dari India sebanyak 105.000 unit untuk kebutuhan operasional KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) diminta untuk dihentikan. Sebab, industri otomotif dalam negeri sejatinya mampu menyuplai kebutuhan kendaraan tersebut. Bahkan kebutuhan ribuan kendaraan itu bisa menjadi peluang membuka lapangan pekerjaan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat Moreno Soeprapto mengatakan, impor pick up dari India ini tidak sesuai dengan Asta Cita yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto. IMI–induk organsasi bermotor di Indonesia yang juga mengurusi soal mobil modifikasi, rancang bangun kendaraan, builder hingga konversi mobil listrik–berpendapat, kebutuhan kendaraan pick up untuk KDMP itu bisa menjadi peluang baru untuk industri otomotif dalam negeri.
“Dengan melakukan impor 105 ribu unit mobil secara CBU (Completely Built Up) atau secara utuh sudah jadi, dengan nilai hampir Rp 25 triliun, berarti peluang membuka lapangan kerja buat masyarakat Indonesia itu tidak ada. Yang ada, justru memberi lapangan kerja buat India,” kata Moreno dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa (24/2/2026).
Di sisi lain, spesifikasi kendaraan pickup dan light truck yang akan diimpor BUMN PT Agrinas Pangan Nusantara sejatinya juga tersedia di Tanah Air. Menurut Moreno, kebutuhan kendaraan operasional KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) bisa memanfaatkan mobil produksi dalam negeri yang telah lama memproduksi kendaraan pickup atau light truck.
Ada beberapa merek kendaraan pickup dan light truck produksi dalam negeri yang telah memenuhi ketentuan TKDN 40 persen seperti Suzuki, Mitsubishi Motors, Daihatsu, Isuzu, Wuling hingga DFSK.
“Kenapa harus impor? Sementara Mahindra & Mahindra dan Tata Motors saja tidak ada pabrik maupun dealernya di sini. Lalu, bagaimana jika ada kerusakan dan membutuhkan spare part? Mestinya, sampai ke sana dong,” ujar Moreno.
Yang jelas, dalam situasi ekonomi lesu termasuk industri otomotif nasional, lanjut Moreno, BUMN seharusnya menjadi instrumen stimulir industri nasional sekaligus pencipta lapangan kerja.
“Jika industri otomotif nasional bergerak, banyak lulusan SMK yang terserap. Apalagi pemerintah berkomitmen meningkatkan lapangan kerja berkualitas, mendorong kewirausahaan, serta mengembangkan industri dan infrastruktur,” katanya.
Menurut Moreno, kebijakan impor mobil di tengah situasi industri otomotif nasional yang lagi lesu seperti sekarang adalah ironis dan kontradiktif.
Peluang buat Industri Modifikasi
Moreno bilang, momentum ini justru bisa menjadi peluang besar untuk menunjukkan bahwa industri rancang bangun dan modifikasi kendaraan dalam negeri sudah sangat siap dan kompeten untuk memenuhi kebutuhan KDMP.
“Di bawah ekosistem IMI, kita memiliki banyak builder dan engineer lokal yang kemampuannya tidak kalah dengan luar negeri,” ujar Moreno .
Beberapa anggota IMI sudah mampu melakukan konversi kendaraan secara menyeluruh, termasuk rancang bangun dari sasis, body, hingga sistem penggerak, baik mesin konvensional maupun listrik.
“Bahkan sudah ada karya konversi listrik yang dibangun oleh anggota IMI dengan standar engineering yang baik,” lanjut Moreno.
Selain itu, builder seperti Signal Kustom bahkan sudah mengembangkan prototype kendaraan listrik sejak 2009. Artinya, kapasitas industri sudah ada dan sangat mampu di dalam negeri.
“Pemerintah dan IMI bisa mengambil peran strategis sebagai fasilitator dan quality gate agar kendaraan yang dibangun memenuhi standar keselamatan, regulasi, dan kelayakan jalan,” beber Moreno.
Hal ini dapat menjadi pertimbangan strategis agar kebijakan yang diambil bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga investasi bagi industri otomotif nasional ke depan.













