Harga Minyak Tembus US$80, Menkeu Purbaya Pastikan APBN Masih Aman
Simetrisnews – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali meski harga minyak dunia melonjak akibat konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Lonjakan harga terjadi setelah Iran menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran terganggunya distribusi energi global.
Baca Juga :
- Prabowo Bahas Dampak Konflik Timur Tengah dalam Forum Bersilaturahmi dengan Presiden dan Wapres Terdahulu
- Menlu Sugiono Perintahkan Evakuasi WNI dari Iran di Tengah Eskalasi Timur Tengah
- Presiden Prabowo Gelar Silaturahmi dengan Mantan Presiden, Wapres, Ketum Parpol, dan Jajaran Kabinet
- Polres Aceh Barat Ultimatum 50 Kepala Desa untuk Kembalikan Dana Desa Rp 40,9 Miliar
- Honda Super One, ‘Brio Listrik’ Siap Masuk Indonesia dengan Bocoran Spesifikasi
Harga Minyak Naik, APBN Tetap Terkendali
Saat ini, harga minyak dunia disebut telah menyentuh level US$ 80 per barel. Meski demikian, Purbaya menegaskan anggaran untuk impor minyak maupun subsidi energi masih dalam batas aman.
“Kan channel-nya melalui ekspor ataupun harga minyak. Harga minyak sudah ke US$ 80, saya hitung sampai US$ 92 pun kita masih bisa kendalikan anggarannya. Jadi tidak masalah,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Ia menekankan, pemerintah memiliki ruang fiskal untuk melakukan penyesuaian apabila harga minyak terus bergerak naik.
“Nggak. Kita bisa adjust, kita bisa atur,” tegasnya.
Suplai BBM Dipastikan Tetap Ada
Purbaya juga memastikan Indonesia tetap akan memperoleh tambahan suplai bahan bakar minyak (BBM), meski kemungkinan dengan harga yang lebih tinggi.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut cadangan BBM nasional cukup untuk sekitar 20 hari apabila tidak ada pasokan masuk sama sekali.
“20 hari itu kalau nggak ada supply sama sekali, baru berantakan. Tapi biasanya nggak seperti itu. Kita pasti dapat suplai, tapi harganya lebih tinggi,” pungkas Purbaya.
Pemerintah optimistis kombinasi pengendalian fiskal, fleksibilitas anggaran, dan keberlanjutan suplai energi mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.












