Garuda Indonesia Rugi Rp 5,4 Triliun di 2025, Armada Bermasalah Jadi Biang Kerok

Simetrisnews – Garuda Indonesia mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 319,39 juta atau sekitar Rp 5,42 triliun sepanjang tahun 2025. Kinerja keuangan perseroan tertekan akibat banyaknya armada pesawat yang tidak laik terbang (unserviceable aircraft) pada semester I-2025.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menyebut keterbatasan kapasitas produksi menjadi faktor utama penurunan kinerja perusahaan.

“Penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025, di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Hingga akhir 2025, jumlah armada yang siap terbang (serviceable aircraft) tercatat sebanyak 99 unit, meningkat dari 84 unit pada Juni 2025. Namun, masih terdapat 43 pesawat yang belum dapat dioperasikan karena proses perawatan.

Kondisi ini berdampak pada jumlah penumpang yang mengalami penurunan. Sepanjang 2025, Garuda Indonesia Group mencatat 21,2 juta penumpang, turun 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain masalah armada, tekanan nilai tukar rupiah serta tantangan rantai pasok industri aviasi global turut memperbesar beban biaya operasional, terutama dalam hal pemeliharaan dan perbaikan pesawat.

Meski demikian, perusahaan optimistis dapat memperbaiki kinerja melalui transformasi bisnis dan pemulihan armada secara bertahap. Dukungan pendanaan dari BPI Danantara juga mulai memberikan dampak positif sejak semester II-2025.

Ke depan, Garuda Indonesia menargetkan dapat mengoperasikan 68 armada siap terbang pada akhir 2026. Sementara anak usahanya, Citilink, ditargetkan mengoperasikan 50 pesawat pada periode yang sama.

Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan usaha Garuda Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar US$ 3,21 miliar atau sekitar Rp 54,57 triliun, turun dari US$ 3,41 miliar pada 2024.

Pendapatan tersebut didominasi oleh penerbangan berjadwal sebesar US$ 2,14 miliar, diikuti penerbangan tidak berjadwal sebesar US$ 340,87 juta, serta pendapatan lainnya sebesar US$ 361,05 juta.

Sementara itu, total beban usaha mencapai US$ 3,10 miliar atau sekitar Rp 52,69 triliun. Beban terbesar berasal dari operasional penerbangan sebesar US$ 1,54 miliar, disusul biaya pemeliharaan dan perbaikan sebesar US$ 661,36 juta.

Selain itu, beban kebandaraan dan pelayanan penumpang masing-masing menyumbang US$ 249,14 juta dan US$ 216,35 juta sepanjang 2025.

Sebagai perbandingan, rugi bersih Garuda Indonesia pada tahun sebelumnya tercatat sebesar US$ 69,77 juta. Artinya, kerugian perseroan meningkat signifikan dalam satu tahun terakhir.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, Garuda Indonesia kini fokus pada pemulihan operasional dan efisiensi biaya untuk memperkuat kinerja di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup