CELIOS: ATM dan Kantor Bank Mulai Berkurang, Transaksi Digital Makin Mendominasi
Simetrisnews – Lembaga riset ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai berkurangnya jumlah mesin ATM dan kantor bank di Indonesia tidak terlepas dari perubahan pola konsumsi finansial masyarakat yang semakin beralih ke layanan digital.
Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda mengatakan kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi telah berubah drastis seiring berkembangnya teknologi digital.
Ia mencontohkan, jika sebelumnya masyarakat harus pergi ke ATM bahkan tengah malam untuk melakukan pembayaran seperti tiket kereta saat Lebaran, kini transaksi tersebut bisa dilakukan langsung melalui ponsel.
“Kalau dulu kita meng-war tiket kereta Lebaran jam 12 malam harus ke ATM untuk bayar tiketnya. Sekarang tidak lagi karena ada online banking dan mobile apps,” ujar Nailul dalam acara Digital Banking dan Economic Outlook 2026 di kantor Amar Bank di Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, perubahan kebiasaan ini membuat jumlah mesin ATM yang beroperasi di Indonesia terus mengalami penurunan.
CELIOS memprediksi nilai pembayaran digital akan terus meningkat pada 2026 hingga mencapai sekitar Rp4 triliun. Selain itu, layanan pinjaman online dan transaksi melalui bank digital juga diperkirakan tetap mengalami pertumbuhan.
Di sektor bank digital, Nailul memperkirakan transaksi akan tumbuh sekitar 10 persen meskipun dunia tengah menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi global. Perkembangan teknologi yang semakin canggih dinilai menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan tersebut.
Ia juga menyoroti pergeseran layanan dari fasilitas fisik seperti kantor cabang, ATM, hingga contact center menuju layanan digital seperti online banking dan aplikasi mobile.
“Nah ini terlihat dari jumlah kantor bank secara umum yang mengalami penurunan cukup tajam, begitu juga dengan jumlah mesin ATM dari 2018 sampai 2025,” jelasnya.
Selain itu, pertumbuhan akun uang elektronik juga meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kartu kredit maupun kartu debit.
Menurutnya, transaksi menggunakan kartu uang elektronik berbasis server mencatatkan pertumbuhan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 88 persen. Sementara itu, kartu kredit hanya tumbuh sekitar 7,4 persen dan kartu debit sekitar 6,38 persen.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan jumlah mesin ATM, CDM, dan CRM di Indonesia mencapai 89.774 unit hingga kuartal III-2025. Angka ini menurun dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai 91.173 unit.
Artinya, dalam setahun terdapat sekitar 1.399 mesin ATM yang berhenti beroperasi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut tren penurunan jumlah mesin ATM diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital di Indonesia.
















Tinggalkan Balasan