Capello Bongkar Penyebab Wakil Italia Terpuruk di Liga Champions
Simetrisnews – Wakil-wakil Italia tengah menghadapi masa sulit di Liga Champions UEFA musim ini. Pelatih legendaris Fabio Capello mengungkap salah satu faktor utama yang membuat klub-klub Italia kesulitan bersaing di level tertinggi Eropa.
Baca Juga :
- Bodø/Glimt Singkirkan Inter Milan, Potensi Jumpai Lagi ManCity
- Newcastle Lolos ke 16 Besar UCL, Siap Tantang Chelsea atau Barcelona
- 24 Ribu Dapur MBG Dapat Insentif Rp 6 Juta per Hari, BGN Klaim Lebih Efisien dari Bangun Sendiri
- Inter Milan Tersingkir dari Liga Champions Usai Kalah Agregat 2-5 dari Bodo/Glimt
- Persebaya Sukses Bungkam PSM 1-0 di Gelora Bung Tomo
Italia baru saja kehilangan Inter Milan yang tersingkir di babak play-off 16 besar usai kalah agregat 2-5 dari Bodo/Glimt. Kekalahan tersebut terjadi setelah leg kedua yang berlangsung Rabu (25/2/2026) dini hari WIB.
Inter menyusul Napoli, sang juara bertahan Liga Italia, yang lebih dulu angkat koper sejak fase liga. Dengan kondisi ini, Italia kini berada di ambang kehilangan seluruh wakilnya di kompetisi elite Eropa.
Harapan tersisa berada di tangan Juventus dan Atalanta. Namun, keduanya berada dalam posisi sulit jelang leg kedua. Juventus tertinggal agregat 2-5 dari Galatasaray, sementara Atalanta harus mengejar defisit dua gol saat menghadapi Borussia Dortmund.
Menurut Capello, keterpurukan ini tidak lepas dari kebiasaan klub-klub Italia yang bermain dengan tempo lambat di kompetisi domestik. Hal tersebut membuat mereka kesulitan saat menghadapi tim-tim Eropa yang mengandalkan intensitas tinggi dan pressing agresif.
“Tim-tim Italia bermain di tempo yang lambat. Ketika mereka menghadapi tim yang memainkan press-and-run, mereka keteteran. Mereka tidak terbiasa bermain cepat dan akhirnya membuat banyak kesalahan,” ujar Capello, yang pernah melatih AC Milan, Real Madrid, AS Roma, dan Juventus.
Ia menilai budaya permainan di Serie A ikut berkontribusi terhadap masalah ini. Menurutnya, saat tempo pertandingan dinaikkan, permainan kerap dihentikan karena duel dianggap terlalu keras.
“Inilah kuncinya. Sekarang kita tidak terbiasa bermain agresif. Saat tempo dinaikkan di Serie A, permainan justru berhenti. Sedikit kontak saja sudah dianggap pelanggaran,” lanjutnya.
Capello menegaskan, selama klub-klub Italia tidak berani mengubah karakter permainan menjadi lebih cepat dan agresif, mereka akan terus kesulitan bersaing di Eropa.
“Inilah hasilnya. Kita bermain di tempo lambat, dan dalam kondisi seperti itu, sangat sulit untuk menjadi tim yang benar-benar berbahaya di level Eropa,” pungkasnya.












