Simetrisnews – Ketahanan energi dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional, terutama di tengah dinamika global dan lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pemerintah terus mendorong diversifikasi bauran energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), termasuk opsi energi nuklir sebagai sumber baseload yang andal dan rendah emisi.
“Sebetulnya dari segi teknologi, dari segi pembiayaan, dari segi kesiapan regulasi, sebetulnya Indonesia dibandingkan dengan berbagai negara ASEAN lain lebih siap,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional karena mampu menyediakan pasokan listrik stabil untuk melengkapi energi fosil dan EBT lainnya.
Pemerintah, kata Airlangga, telah menyiapkan berbagai aspek pendukung, mulai dari regulasi, kesiapan teknologi, hingga kerja sama internasional. Salah satu fokus yang dikembangkan adalah teknologi small modular reactor (SMR).
Indonesia juga disebut memiliki potensi sumber daya pendukung nuklir, seperti cadangan uranium dan thorium yang tersebar di Bangka Belitung dan Kalimantan Barat.
“Pemerintah menargetkan keputusan pembangunan PLTN dapat diambil pada 2027, dengan target operasional awal pada 2032 dan kapasitas mencapai sekitar 7 gigawatt pada 2040,” paparnya.
Dalam jangka panjang, energi nuklir ditargetkan memberi kontribusi signifikan terhadap bauran energi nasional sebagai bagian dari upaya mencapai target Net Zero Emission 2060.
Airlangga menekankan, percepatan implementasi sangat bergantung pada kesiapan eksekusi, peran operator, kesiapan SDM, serta transfer teknologi untuk memastikan keberlanjutan program.
“Pengembangan PLTN juga perlu diintegrasikan dengan kebutuhan sektor industri masa depan. Sektor seperti smelter dan data center membutuhkan pasokan energi bersih dan stabil dalam jumlah besar. Oleh karena itu, penguatan infrastruktur kelistrikan, termasuk pengembangan smart grid dan konektivitas antarwilayah, menjadi sangat penting,” jelasnya.
Selain nuklir, pemerintah juga tetap mendorong percepatan energi terbarukan lain, khususnya energi surya melalui program dedieselisasi di wilayah 3T serta penguatan industri panel surya dalam negeri.
“Jadi sebetulnya opportunity ini tidak boleh kita tidak manfaatkan. Dua hal yang menjadi perhatian Bapak Presiden. Satu untuk surya, karena ini hampir bisa seluruhnya memperkuat ekosistem di dalam negeri, termasuk dari hilirisasi dari pasir silika. Dan kemudian yang kedua adalah kesiapan terkait dengan nuklir,” pungkas Airlangga.
