Iran Ajukan 5 Syarat ke AS untuk Akhiri Perang, Hormuz Jadi Kunci

Simetrisnews – Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang telah berlangsung hampir satu bulan memasuki babak baru. Teheran kini mengajukan lima syarat tegas kepada Washington sebagai prasyarat mengakhiri konflik.

Konflik bersenjata pecah sejak 28 Februari 2026, diawali serangan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Iran membalas dengan serangan roket ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.

Di tengah eskalasi, Washington mengirim proposal perdamaian melalui jalur diplomatik. Namun, respons Teheran keras: perang hanya akan berakhir sesuai syarat dan waktu yang ditentukan Iran sendiri.

Dilansir Press TV, seorang pejabat senior politik dan keamanan Iran menyebut proposal AS sebagai tawaran yang “berlebihan” dan tidak mencerminkan realitas di lapangan.

“Iran akan mengakhiri perang ketika sudah memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syaratnya sendiri terpenuhi,” ujar pejabat tersebut.

Lima Syarat Iran untuk Mengakhiri Perang

Teheran menetapkan lima tuntutan utama:

  1. Penghentian total agresi dan pembunuhan oleh musuh.
  2. Mekanisme konkret yang menjamin perang tidak akan terulang terhadap Iran.
  3. Pembayaran ganti rugi perang dan reparasi yang jelas serta terjamin.
  4. Penghentian perang di semua front dan kelompok perlawanan di kawasan.
  5. Pengakuan penuh atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz sebagai hak sah yang tidak bisa diganggu.

Iran juga menegaskan, tidak akan ada negosiasi sebelum seluruh syarat itu diterima.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan posisi resmi pemerintah.

“Kami menginginkan penghentian perang dengan syarat-syarat kami sendiri, dan dengan cara bahwa itu tidak akan terulang lagi,” ujarnya.

Ia juga menampik klaim Gedung Putih soal adanya pembicaraan.

“Saat ini, kebijakan kami adalah melanjutkan perlawanan. Berbicara tentang negosiasi sekarang adalah pengakuan kekalahan,” tegasnya.

Posisi keras Teheran ini membuat peluang gencatan senjata kian kecil, terutama dengan Selat Hormuz yang kini menjadi kartu tawar strategis Iran dalam konflik geopolitik terbesar di kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup