China Peringatkan Eskalasi Timur Tengah, Serangan Tambahan Bisa Picu Krisis Tak Terkendali
Simetrisnews – China memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berisiko menciptakan situasi yang tidak terkendali. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran.
Dilaporkan AFP, Trump memberikan tenggat waktu 48 jam kepada Teheran untuk mengakhiri blokade sebagian Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa penggunaan kekuatan hanya akan memperburuk situasi dan memicu siklus konflik yang berkepanjangan.
“Jika perang meluas lebih jauh dan situasi memburuk lagi, seluruh wilayah dapat terjerumus ke dalam situasi yang tak terkendali,” ujarnya dalam konferensi pers.
Konflik yang melibatkan Iran serta serangan dari Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa waktu terakhir telah meningkatkan ketegangan di kawasan.
Selain itu, gangguan di Selat Hormuz juga mengancam keamanan energi global, termasuk pasokan minyak bagi China.
Meski dikenal sebagai mitra Iran, China menegaskan tidak mendukung serangan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Beijing juga mendesak semua pihak untuk segera melakukan gencatan senjata.
Sementara itu, Trump yang sempat dijadwalkan mengunjungi Beijing memilih menunda perjalanannya untuk fokus pada perkembangan konflik. Ia juga meminta China dan negara lain untuk membantu membuka kembali akses Selat Hormuz.
Hingga kini, China belum merespons langsung permintaan tersebut, namun terus mengupayakan jalur diplomasi. Beijing telah mengirim utusan khususnya, Zhai Jun, ke kawasan Timur Tengah guna mendorong de-eskalasi konflik.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, juga menegaskan bahwa perang seharusnya tidak pernah terjadi dan menyerukan penghentian pertempuran.
Situasi ini menambah kekhawatiran global terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah yang dapat berdampak besar pada stabilitas geopolitik dan ekonomi dunia.













