Bisnis

Daya Beli Melemah, Penjualan Mobil di Indonesia Turun pada 2025

Simetrisnews – Membeli mobil dulu sering dianggap sebagai simbol kebanggaan. Namun kini situasinya mulai berubah. Sebelum membeli mobil, banyak masyarakat justru lebih dulu memikirkan cicilan dan biaya perawatannya.

Pasar otomotif nasional masih mengalami perlambatan. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil secara wholesales pada 2025 turun sekitar 7,2 persen dibandingkan 2024.

Sepanjang tahun tersebut, distribusi mobil dari pabrikan ke dealer hanya mencapai sekitar 803 ribu unit. Penurunan ini salah satunya dipicu oleh melemahnya daya beli masyarakat.

Meski sejumlah merek otomotif baru masuk ke pasar Indonesia, kehadiran mereka belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan penjualan. Minat masyarakat untuk membeli mobil baru masih relatif rendah.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa masyarakat kini lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran, termasuk ketika mempertimbangkan pembelian kendaraan.

Menurutnya, jika dulu mobil sering dibeli untuk alasan kebanggaan, kini masyarakat lebih fokus pada keamanan kondisi keuangan mereka.

“Kalau sebelumnya orang membeli mobil untuk mencari pride, sekarang orang akan melihat lagi bagaimana keamanan dompetnya, dalam hal ini kondisi keuangannya,” ujar Josua.

Ia menilai pertimbangan masyarakat sebelum membeli mobil kini semakin panjang. Selain memikirkan kemampuan finansial dan cicilan kendaraan, biaya bahan bakar serta biaya perawatan juga menjadi faktor penting.

Dalam beberapa tahun terakhir, konsumen otomotif dinilai semakin sensitif terhadap harga kendaraan, besaran cicilan leasing, efisiensi bahan bakar, hingga layanan purnajual.

Biaya perawatan yang tinggi juga bisa membuat calon pembeli mengurungkan niat untuk membeli kendaraan baru.
Josua menambahkan, kondisi ini sangat berkaitan dengan kelas menengah yang menjadi pasar terbesar industri otomotif nasional.

Menurutnya, kenaikan pendapatan kelas menengah relatif kecil dibandingkan dengan kenaikan harga mobil.
Pendapatan kelas menengah disebut hanya naik sekitar 3,5 persen, sementara harga mobil meningkat sekitar 5 hingga 7 persen.

“Jadi jangan heran kalau sekitar 70 hingga 80 persen pasar otomotif Indonesia terkonsentrasi pada mobil dengan harga hingga Rp300 juta. Segmen itulah yang paling laku,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
error: Halo