Sejarah Operasi Pergantian Rezim AS di Dunia, dari Iran hingga Venezuela

Simetrisnews– Konflik terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memunculkan perdebatan lama mengenai strategi “pergantian rezim” yang kerap dikaitkan dengan kebijakan luar negeri Washington. Pada awal konflik, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran harus berhenti menjadi ancaman, baik dari sisi nuklir maupun militer konvensional, serta menyingkirkan rezim ulama yang berkuasa.

Namun seiring perkembangan konflik, pesan dari Washington mulai berubah. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan pada Senin (2/3/2026) bahwa operasi militer kali ini “bukan perang pergantian rezim”. Meski demikian, sejarah menunjukkan Amerika Serikat memiliki panjang pengalaman dalam operasi yang bertujuan menggulingkan pemerintahan di negara lain.

Sebuah studi pada 2019 mencatat bahwa selama Perang Dingin (1947–1989), AS melakukan 72 upaya pergantian rezim di luar negeri. Sebanyak 64 di antaranya dijalankan secara rahasia oleh Central Intelligence Agency. Salah satu yang paling terkenal adalah kudeta Iran 1953 yang menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh dan memperkuat kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Kekuasaan monarki tersebut akhirnya runtuh dalam Revolusi Iran 1979, yang melahirkan sistem pemerintahan teokratis yang kini kembali menjadi sasaran tekanan militer dan politik Barat.

Beberapa Operasi Pergantian Rezim yang Melibatkan AS:

Libya 2011
Saat gelombang Arab Spring melanda Afrika Utara, pemerintahan Barack Obama mendukung oposisi Libya melawan pemimpin lama Muammar Gaddafi. Operasi udara NATO yang dikenal sebagai Operation Unified Protector berujung pada kematian Gaddafi pada 2011. Hingga kini, Libya masih menghadapi ketidakstabilan politik.


Irak 2003
Invasi yang dipimpin Presiden George W. Bush menggulingkan Saddam Hussein. Bush sempat menyatakan perang selesai melalui pidato terkenal “Mission Accomplished” di kapal USS Abraham Lincoln (CVN‑72). Namun kekosongan kekuasaan kemudian memicu konflik sektarian dan kemunculan kelompok ISIS di kawasan Timur Tengah.

Afghanistan 2001
Setelah Serangan 11 September 2001, AS melancarkan Operation Enduring Freedom untuk menggulingkan Taliban. Meski rezim Taliban sempat jatuh, kelompok tersebut kembali berkuasa setelah penarikan pasukan internasional pada 2021 di masa Presiden Joe Biden.

Panama 1989
Presiden George H. W. Bush memerintahkan invasi Operation Just Cause untuk menggulingkan diktator Manuel Noriega. Setelah operasi militer tersebut, oposisi Guillermo Endara dilantik sebagai presiden Panama.

Grenada 1983
Di tengah ketegangan Perang Dingin, Presiden Ronald Reagan memerintahkan invasi ke Grenada setelah Perdana Menteri Maurice Bishop digulingkan dan dibunuh oleh faksi militer. Operasi tersebut dilakukan dengan dukungan beberapa negara Karibia.
Republik Dominika 1965
Presiden Lyndon B. Johnson mengirim puluhan ribu tentara AS untuk meredam konflik internal dan mencegah munculnya pemerintahan sosialis baru yang dikhawatirkan menjadi “Kuba kedua” di kawasan Karibia.

Venezuela 2026
Peristiwa terbaru terjadi pada Januari 2026 ketika Presiden Nicolás Maduro ditangkap dan dibawa ke New York atas tuduhan “terorisme narkoba”. Kekuasaan sementara berpindah ke mantan wakil presiden Delcy Rodríguez.

Situasi politik Venezuela masih belum stabil. Tokoh oposisi María Corina Machado, penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2025, bahkan menyatakan niatnya kembali ke negara itu untuk memimpin transisi menuju demokrasi.
Dua bulan setelah intervensi tersebut, masa depan Venezuela masih berada di persimpangan antara tekanan internasional, kekosongan kekuasaan, dan persaingan politik domestik.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
error: Halo