Pentagon Klaim Tewaskan Pejabat Iran yang Rencanakan Pembunuhan Donald Trump

Simetrisnews – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon mengumumkan bahwa militer AS telah menewaskan seorang pejabat Iran yang memimpin unit perencana pembunuhan Presiden Donald Trump. Pejabat Iran tersebut disebut tewas dalam operasi militer pada Selasa (3/3/2026) waktu setempat, di tengah eskalasi perang antara AS dan Iran sejak Sabtu (28/2).

Pengumuman itu disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam pemaparan terbaru operasi militer AS bersama Israel terhadap Iran, seperti dilansir Reuters, Kamis (5/3/2026).
Hegseth menyebut pejabat tersebut sebagai pemimpin unit yang berupaya membunuh Trump. Namun, ia tidak mengungkap identitas maupun detail lokasi operasi tersebut.

“Pemimpin unit yang berupaya membunuh Presiden Trump telah diburu dan dibunuh. Iran berusaha membunuh Presiden Trump dan Presiden Trump yang tertawa terakhir,” ujar Hegseth kepada wartawan.

Meski demikian, Hegseth menegaskan bahwa target tersebut bukan fokus utama dalam perang yang sedang berlangsung. Ia menyebut operasi tersebut tidak secara khusus diperintahkan langsung oleh Trump, tetapi pihak militer memastikan individu yang dianggap bertanggung jawab tetap masuk dalam daftar target.

Sebelumnya, pada 2024, Departemen Kehakiman AS mendakwa seorang pria Iran atas dugaan rencana pembunuhan terhadap Trump yang disebut diperintahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Pemerintah Iran telah membantah keras tuduhan tersebut.

Dalam pernyataan terpisah, Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, mengatakan militer AS terus mencatat kemajuan signifikan dalam operasi melawan Iran. Ia menyebut peluncuran rudal balistik Iran menurun 86 persen dibanding hari pertama pertempuran, sementara serangan drone satu arah turun 73 persen dari fase awal konflik.

Menurut Caine, serangan AS kini semakin diperluas untuk membangun superioritas udara lokal di sepanjang pantai selatan Iran, sebagai bagian dari strategi menekan kemampuan militer Teheran.

Pernyataan Pentagon ini menandai babak baru eskalasi konflik antara Washington dan Teheran, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
error: Halo