Mengapa Orang yang Ditagih Utang Bisa Lebih Galak? Ini Penjelasan Psikiater IPB

Simetrisnews – Fenomena orang yang ditagih utang justru bersikap lebih galak dari penagihnya kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Respons emosional tersebut ternyata bukan sekadar persoalan sikap, melainkan dapat dijelaskan secara biologis dan psikologis.

Apa yang Terjadi?
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University sekaligus psikiater, dr. Riati Sri Hartini, SpKj, MSc, menjelaskan bahwa penagihan utang dapat memicu stres finansial dan ancaman terhadap harga diri seseorang.

“Dari sisi psikologis dan neurosains, penagihan utang dapat memicu tekanan berat yang mengikis kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Stres finansial dan rasa terancam pada harga diri membuat kemampuan koping dan kontrol emosi menurun,” ujarnya dikutip Rabu (4/3/2026).

Mengapa Bisa Marah? (Why)
Secara biologis, tekanan saat ditagih utang mengaktifkan amigdala, bagian otak yang berfungsi mendeteksi ancaman. Pada saat yang sama, fungsi prefrontal cortex—yang berperan dalam rasionalitas dan pengendalian emosi—menurun.

Akibatnya, otak masuk ke mode fight or flight (lawan atau lari). Respons yang muncul cenderung defensif dan agresif, bukan reflektif atau tenang.
Kondisi ini memunculkan ledakan emosi spontan berupa marah, tersinggung, atau bersikap galak. Rasa malu, tertekan, hingga ancaman terhadap identitas diri karena kondisi finansial turut memperkuat reaksi tersebut.

Apakah Termasuk Gangguan Jiwa? (What)
dr. Riati menegaskan, sikap galak saat ditagih utang bukanlah gangguan jiwa. Respons itu masuk dalam kategori stres akut (acute stress response), yakni reaksi normal tubuh dan otak ketika menghadapi ancaman mendadak.

Namun, ia mengingatkan bahwa stres finansial memang bisa meningkatkan risiko depresi dan kecemasan. Meski demikian, gangguan mental bersifat multifaktor—melibatkan aspek biologis, sosial, ekonomi, dan psikologis—bukan semata karena utang.

Siapa yang Menagih Berpengaruh (Who & How)
Respons emosional juga dipengaruhi oleh siapa yang menagih. Jika penagih adalah orang dekat, perasaan malu dan harga diri yang terusik lebih dominan. Sementara jika yang datang adalah debt collector, rasa terancam bisa memicu emosi yang lebih meledak.
Meski sama-sama terlihat galak, keduanya tetap merupakan respons stres, bukan indikasi gangguan mental.

Kapan Perlu Diwaspadai?
Reaksi marah yang muncul sesekali saat tertekan masih tergolong wajar. Namun, perlu diwaspadai jika kemarahan berlangsung terus-menerus, semakin tidak terkendali, disertai gangguan tidur berat, rasa putus asa berkepanjangan, atau perilaku berisiko yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimana Cara Meredamnya? (How)
Untuk menghadapi orang yang galak saat ditagih utang, pendekatan yang tenang dinilai lebih efektif. Hindari nada menyudutkan dan tekanan tambahan.
“Biasanya mereka bukan ingin mencari keributan, tetapi sedang tertekan dan kewalahan. Pendekatan yang lebih baik adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada pelan, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama,” jelasnya.

Pendekatan empatik dan komunikatif dapat membantu menurunkan ketegangan, sehingga percakapan kembali rasional dan fokus pada penyelesaian masalah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemarahan saat ditagih utang lebih menyerupai refleks akibat tekanan mendadak, bukan karena gangguan kejiwaan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
error: Halo