Spurs Melempe di Liga Tapi Bersinar di Eropa

Simetrisnews – Dari 16 tim yang melaju ke babak gugur UEFA Champions League 2025/2026, mayoritas datang dengan status mentereng di liga domestik. Banyak yang memuncaki klasemen, sebagian lain nyaman di empat besar. Namun ada satu nama yang kontras: Tottenham Hotspur FC.

Spurs Terpuruk di Liga, Bersinar di Eropa

Tottenham sukses mengamankan tiket 16 besar Liga Champions di tengah performa domestik yang memprihatinkan. Spurs kini tercecer di posisi ke-16 Premier League.

Dari 27 pertandingan, klub London Utara itu baru mengoleksi 29 poin. Mereka hanya terpaut dua tingkat dari zona degradasi dan unggul empat angka saja dari batas merah.

Situasi ini menjadikan Spurs satu-satunya peserta 16 besar yang berada di papan bawah liga domestik.

Dominasi Para Pemuncak Liga

Sebaliknya, lima klub 16 besar justru memimpin klasemen liga masing-masing:

  • Arsenal FC (1 – Premier League)
  • FC Barcelona (1 – LaLiga)
  • FC Bayern Munich (1 – Bundesliga)
  • Paris Saint-Germain (1 – Ligue 1)
  • Sporting CP (1 – Primeira Liga)

Tak hanya itu, total sembilan tim 16 besar saat ini menghuni posisi empat besar liga domestik, termasuk Manchester City FC, Real Madrid CF, Atletico Madrid, dan Galatasaray SK.

Daftar Posisi Klub 16 Besar di Liga Domestik

Berikut gambaran posisi sementara para kontestan 16 besar di liga masing-masing:

  • Arsenal – 1
  • Barcelona – 1
  • Bayern Munich – 1
  • Paris Saint-Germain – 1
  • Sporting CP – 1
  • Manchester City – 2
  • Real Madrid – 2
  • Galatasaray – 2
  • Bodø/Glimt – 2 (musim 2025, off season)
  • Atletico Madrid – 4
  • Chelsea – 5
  • Liverpool – 6
  • Bayer Leverkusen – 6
  • Atalanta – 7
  • Newcastle United – 11
  • Tottenham Hotspur – 16

Kontras ini menunjukkan bahwa performa domestik tak selalu mencerminkan kiprah di Eropa. Spurs boleh terseok-seok di Premier League, namun di Liga Champions mereka masih bertahan dan bahkan berpeluang melangkah lebih jauh.

Menariknya, musim lalu Tottenham juga sempat menjuarai UEFA Europa League saat performa liga mereka merosot, sebelum akhirnya finis di posisi ke-17 — satu tingkat di atas zona degradasi.

Kini publik menanti: akankah Spurs kembali menciptakan kisah paradoks, atau justru tersandung di dua kompetisi sekaligus?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup