Impor 105 Ribu Pikap dari India Dinilai Tak Bijak, Industri Komponen Lokal Terancam

Simetrisnews – Buntut impor 105 ribu unit mobil pikap dari India menuai kritik keras dari pelaku industri otomotif nasional. Pengusaha yang tergabung dalam Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) menilai kebijakan tersebut sangat kurang bijaksana dan berpotensi memukul industri kecil dan menengah di dalam negeri.

Baca Juga :

Impor kendaraan tersebut rencananya dilakukan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara untuk kebutuhan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Namun, langkah pengadaan kendaraan secara utuh (CBU) dinilai akan menutup peluang usaha bagi industri otomotif lokal, khususnya sektor komponen.

Ketua PIKKO, Rosalina Faried, dalam surat resminya kepada Kementerian Perindustrian menegaskan agar pengadaan pikap untuk koperasi desa tetap mengutamakan produk dalam negeri. Menurutnya, kapasitas dan kemampuan industri otomotif serta komponen nasional sudah sangat mumpuni untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Faried menilai rencana impor kendaraan operasional seharusnya menjadi ceruk bisnis strategis bagi industri komponen otomotif lokal. Dengan sinergi yang baik antara produsen kendaraan dan pemasok komponen, anggota PIKKO dinilai mampu terlibat langsung dalam produksi kendaraan operasional koperasi desa.

“Keputusan impor dapat memberikan dampak ekonomi yang tidak bagus terhadap keberlangsungan ekosistem industri otomotif,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari laman Kementerian Perindustrian, Senin (23/2/2026).

PIKKO sendiri memiliki sekitar 110 anggota yang memproduksi berbagai komponen otomotif berbahan dasar metal, plastic rubber, nonwoven insulation, karpet, hingga mould and dies. Anggota PIKKO selama ini berperan sebagai pemasok tier 2 dan tier 3 dalam ekosistem industri otomotif nasional, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat atau lebih.

Dengan tingkat utilisasi produksi yang saat ini masih berada di kisaran 60–70%, impor kendaraan secara utuh dikhawatirkan berdampak luas. Tidak hanya pada pabrikan, tetapi juga terhadap sekitar 6.000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok industri komponen otomotif nasional. Kondisi ini berpotensi menimbulkan disrupsi serius terhadap keberlanjutan ekosistem industri otomotif dalam negeri.

Di tengah lesunya industri otomotif nasional, Faried berharap pemerintah memberikan perhatian serius dengan membatasi jumlah kendaraan yang diimpor dari India. Ia menilai akan lebih tepat jika produsen kendaraan bermotor lokal diberi kesempatan menjadi pemasok utama kebutuhan kendaraan operasional koperasi desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup