Mancanegara

AS Kerahkan Armada Terbesar ke Timur Tengah, Ultimatum Nuklir untuk Iran

Simetrisnews – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa Iran memiliki waktu sekitar 10 hingga 15 hari untuk menentukan langkah terkait potensi eskalasi konflik dan kesepakatan program nuklirnya.

Trump menyebut rentang waktu tersebut sebagai “batas maksimal” yang ia berikan kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan mengenai program nuklir Iran.

“Kita akan mendapatkan kesepakatan, atau itu akan menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi mereka,” ujar Trump kepada para jurnalis di dalam pesawat Air Force One, Kamis (19/2/2026).

Pernyataan senada juga disampaikan Trump saat berada di Gedung Putih. Ia menyebut peluang kesepakatan masih terbuka, namun waktunya sangat terbatas.

“Mungkin kita akan membuat kesepakatan [dengan Iran]. Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan,” kata Trump saat berpidato dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian yang menuai kontroversi.

Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh terus mengancam stabilitas kawasan dan harus dicegah untuk memiliki senjata nuklir. Di sisi lain, pemerintah Iran berulang kali menyatakan program nuklirnya semata-mata untuk kepentingan sipil.

Presiden AS itu juga memperingatkan akan adanya “hal-hal buruk” jika kesepakatan nuklir yang substansial gagal dicapai.

AS Kerahkan Armada dan Jet Tempur Terbesar ke Timur Tengah

Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat mengerahkan kekuatan militer terbesar ke Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah kapal perang dan pesawat tempur dikerahkan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi konflik.

Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perusak telah berada di kawasan sejak Januari dengan sekitar 5.700 personel. Sementara itu, USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, juga dilaporkan tengah menuju kawasan dengan pengawalan tiga kapal perusak dan membawa lebih dari 5.000 personel.

Dengan pengerahan tersebut, total kehadiran Angkatan Laut AS di kawasan mencapai 14 kapal, sebagaimana dilaporkan Associated Press.

Tak hanya itu, AS juga memindahkan sejumlah pesawat tempur ke Eropa dan Timur Tengah, termasuk F-15, F-16, dan F-22. Washington sebelumnya juga telah menempatkan beberapa skuadron F-35 di kawasan tersebut. Selain itu, lebih dari 100 pesawat tanker pengisian bahan bakar udara dilaporkan turut digerakkan.

Mantan kapten Marinir AS sekaligus mantan pejabat Departemen Luar Negeri, Matthew Hoh, menilai pengerahan ini bukan sekadar simbolis.

“Saya pikir ini serius. Ini bukan gertakan, bukan pertunjukan. Kekuatan yang ditempatkan Amerika Serikat di Timur Tengah adalah kekuatan yang mampu melaksanakan operasi nyata,” ujarnya.

Hoh menekankan bahwa selain kapal induk dan skuadron tempur, keberadaan pesawat khusus menjadi indikator keseriusan AS.

“Pesawat perang elektronik serta pesawat komando dan kendali hanya akan ditempatkan dalam jumlah besar jika Angkatan Udara AS benar-benar serius menggunakannya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan dampak pengerahan militer ini terhadap diplomasi nuklir Iran. Menurut Hoh, persoalan utama bagi Teheran adalah soal kepercayaan terhadap Washington.

“Kesepakatan nuklir pernah dibuat lebih dari satu dekade lalu dan kemudian ditarik secara sepihak oleh pemerintahan Trump pada 2018. Ditambah sejarah konflik, sabotase, pembunuhan ilmuwan, serta serangan siber, semua itu membuat Iran mempertanyakan bagaimana mereka bisa mempercayai Amerika,” katanya.

Iran Peringatkan Respons “Tegas”

Di sisi lain, Iran memperingatkan akan merespons secara “tegas” jika menghadapi agresi militer. Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Misi Tetap Iran untuk PBB menyatakan bahwa pangkalan, fasilitas, dan aset milik “kekuatan yang bermusuhan” di kawasan akan dianggap sebagai target sah jika Iran diserang.

Iran menilai retorika Trump mengisyaratkan risiko nyata terjadinya agresi militer. Meski menegaskan tidak menginginkan perang, Teheran memastikan militernya akan bertindak “tegas dan menentukan” bila menjadi sasaran serangan.

Di tengah situasi tersebut, Iran juga menggelar latihan militer tahunan bersama Rusia pada Kamis (19/2). Latihan itu mencakup tembak langsung di Teluk Oman dan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi kawasan Teluk. Kantor berita IRNA menyebut latihan tersebut bertujuan meningkatkan koordinasi operasional dan pertukaran pengalaman militer. Latihan serupa telah digelar sejak 2019 dan tahun ini menjadi yang ketujuh.

Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan

Ketegangan geopolitik turut berdampak pada pasar energi global. Harga minyak dunia kembali menguat tajam sejak Rabu (18/2) hingga perdagangan Kamis di Asia, Eropa, dan pembukaan pasar Amerika Serikat.

Minyak mentah Brent kembali menembus level US$70 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli tahun lalu. Pada pukul 16.30 GMT, harga Brent mencapai US$71,57 per barel, naik 1,7% dalam sehari.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 2% menjadi US$66,37 per barel, level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Sejak lonjakan besar pada awal 2022, beberapa pekan setelah invasi Rusia ke Ukraina, harga minyak relatif bergerak stabil meski fluktuatif. Terakhir kali harga berada di atas level saat ini tercatat pada musim panas 2025, ketika konflik Israel–Iran memicu kenaikan tajam dan Amerika Serikat menyerang sejumlah target program nuklir Iran.

Baca juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup