Panduan Lengkap Niat Puasa Ramadan: Harian dan Sebulan Penuh Beserta Artinya

Simetrisnews – Awal Ramadhan sudah ditentukan oleh pemerintah Indonesia, yaitu Kamis 19 Februari 2026. Nah, jika lupa, simetrisnews coba ulik sedikit terkait niat puasa.

Niat adalah hal utama dalam setiap ibadah, tak terkecuali puasa Ramadan. Tanpa niat yang benar, puasa bisa jadi sekadar menahan lapar dan dahaga saja.
Para ulama memberikan tuntunan mengenai cara membaca niat harian serta niat untuk sebulan penuh di awal Ramadan. Umat Islam dapat menentukan sesuai dengan keyakinannya.

Agar ibadah puasa berjalan dengan lancar, berikut panduan lengkap niat puasa Ramadan harian dan sebulan penuh dalam teks Arab, latin, beserta artinya.

Niat Puasa Ramadan Harian
Dinukil dari Buku Praktis Ibadah susunan Irwan dkk, niat puasa Ramadan dapat umat Islam baca setiap malam hari. Berikut bacaan niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa-i fardhi syahri Ramadhaana haadzihis-sanati lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh
Selain dibaca setiap hari, niat puasa Ramadan juga dapat umat Islam baca satu kali pada malam pertama Ramadan untuk puasa satu bulan penuh. Pengamalan ini mengikuti pendapat Imam Malik. Berikut bacaan niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma jamii’i syahri ramadhaani haadzihis-sanati fardhan lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala.”

Cara Membaca Niat Puasa Ramadan
Dikutip dari laman MUI, niat menjadi salah satu rukun yang wajib dilakukan umat Islam sebelum melakukan ibadah puasa. Adapun cara membaca niat puasa, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Ketika melakukan puasa wajib seperti puasa Ramadan, qadha, dan nazar, umat Islam harus membaca niat pada malam hari sebelum terbit fajar. Sementara puasa sunnah, diperbolehkan membaca niat pada siang harinya.

Dalam mazhab Syafi’i, niat puasa harus dibaca setiap hari pada malam Ramadan. Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam kitab Hasyiyatul Iqna menjelaskan:

ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر

Artinya: “Disyaratkan berniat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, harus niat puasa di setiap hari (bulan Ramadan) jika melihat redaksi zahir hadits.”

Sementara dalam mazhab Maliki, Yusuf Al-Qaradlawi dalam Fiqh al-Shiyam mengatakan, umat Islam cukup membaca niat puasa Ramadan sebulan penuh pada malam pertama Ramadan. Sehingga tidak perlu memperbaharui niat di setiap harinya, dengan alasan puasa Ramadan merupakan satu kesatuan ibadah.

Amalan-amalan Sunnah Puasa Ramadan
Dijelaskan dalam Kitab Terlengkap Panduan Ibadah Muslim Sehari-hari oleh KH Muhammad Habibillah, agar ibadah puasa Ramadan berjalan penuh berkah, umat Islam dianjurkan mengerjakan sunnah-sunnahnya. Berikut amalan-amalan sunnah puasa Ramadan:

  1. Mengakhirkan Makan Sahur
    Makan sahur bukan sekadar membantu umat Islam yang berpuasa agar memiliki energi dan tenaga saja. Akan tetapi, terdapat unsur sunnah dalam melaksanakan sahur. Sahur menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang tidak pernah mempersulit dan selalu memberikan kemudahan.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin berpuasa maka hendaklah ia bersahur.” (HR Bukhari)

Umat Islam juga disunnah mengakhirkan makan sahur hingga menjelang fajar. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Anas, dari Zaid bin Tsabit yang berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah SAW. Kemudian, kami pun berdiri untuk menunaikan salat.” Anas bertanya kepada Zaid, “Berapa lama jarak antara azan Subuh dan sahur kalian?” Zaid menjawab, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.” (HR Bukhari)

  1. Menyegerakan Berbuka Puasa
    Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Bukhari)

Rasulullah SAW terbiasa berbuka puasa sebelum menunaikan salat Magrib. Beliau tidak menunggu hingga salat Magrib selesai, meskipun hanya berbuka dengan air putih dan beberapa biji kurma.

  1. Berbuka dengan Kurma dan Air Putih
    Disunnahkan berbuka dengan kurma atau air putih sebagaimana dijelaskan dalam hadits sebelumnya. Jika tidak ada kurma, dapat diganti dengan makanan yang manis.

Menurut ulama, ada yang menjelaskan memakan makanan manis saat berbuka dapat memulihkan kekuatan tubuh. Sementara minum air dapat menyucikan badan dari berbagai penyakit.

  1. Berdoa Saat Berbuka Puasa
    Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak, yakni pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika ia berbuka, dan orang yang dizalimi.” (HR Bukhari)

Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW membaca doa berikut ketika berbuka puasa:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Dzahabazh zhama-u, wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru, insyaa allaah.

Artinya: “Rasa haus telah hilang, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.” (HR Abu Daud)

Adapun doa berbuka puasa yang disepakati oleh mayoritas ulama, sebagai berikut:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Allaahumma laka shumtu, wa ‘alaa rizqika afthartu.

Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”

Atau bisa juga dengan membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Allaahumma laka shumtu, wa bika aamantu, wa ‘alaa rizqika afthartu.

Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”

  1. Memberi Makan Orang yang Berbuka Puasa
    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Baca juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup