Harga Emas Dunia Anjlok Lebih 2%, Dolar AS Menguat dan Tensi Geopolitik Mereda

Simetrisnews – Harga emas dunia anjlok tajam lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (18/2/2026). Penurunan ini dipicu meredanya tensi geopolitik global serta menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS), yang menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,9% ke level US$ 4.898,53 per troy ons pada pukul 06.22 GMT. Bahkan, emas sempat menyentuh titik terendah dalam sepekan di kisaran US$ 4.862 per troy ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS pengiriman April melemah lebih dalam 2,6% ke posisi US$ 4.917,70 per ons, seiring menipisnya likuiditas pasar.

Analis senior Capital.com, Kyle Rodda, menilai rendahnya aktivitas transaksi menjadi faktor utama tekanan harga. “Likuiditas yang tipis akibat liburan dalam 24 jam terakhir, terutama di China dan Asia, tetapi juga tentunya di Amerika Serikat, berarti kita kekurangan penawaran di pasar,” ujarnya.

Sejumlah bursa saham di China daratan, Hong Kong, Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan tutup karena libur Tahun Baru Imlek. Di sisi lain, pasar saham AS juga libur memperingati Hari Presiden. Kondisi ini turut mendorong penguatan indeks dolar AS sekitar 0,2%, yang membuat emas semakin mahal bagi pemegang mata uang lain.

Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat Federal Reserve bulan Januari yang dinilai akan memberi sinyal arah kebijakan moneter ke depan. Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, peluang pemangkasan suku bunga masih terbuka pada Juni 2026.

Kepala makro global Tastylive, Ilya Spivak, menyebut pasar berharap lebih agresif. “Sekarang akan menarik untuk melihat apa yang dikatakan risalah FOMC ini, dalam artian bahwa pasar menginginkan lebih banyak penurunan suku bunga sekarang daripada yang dikatakan The Fed akan dilakukan,” katanya.

Dari sisi geopolitik, sentimen risiko ikut mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan terlibat langsung dalam pertemuan dengan Iran di Jenewa. Selain itu, perwakilan Ukraina dan Rusia dijadwalkan bertemu pekan ini untuk membahas peluang perdamaian.

Meski tertekan dalam jangka pendek, analis menilai harga emas masih berpotensi melanjutkan tren naik. “Puncak harga terdekat berada di sekitar US$ 5.120, tetapi target berikutnya adalah kembali ke level tertinggi di sekitar US$ 5.600, dan kemudian menuju rekor tertinggi,” pungkas Spivak.

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup