Permukaan Tanah Pesisir Jawa Turun Drastis Tiap Tahun, Jakarta dan Demak Terancam
Simetrisnews – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan permukaan tanah di hampir semua wilayah pesisir Pulau Jawa turun secara drastis tiap tahun. Hal inii terjadi karena banyaknya pembangunan industri dan perumahan yang tidak diatur lebih rapih. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka akan cukup berbahaya bagi para pemukim disekitarnya.
sebagai contoh, kota Demak, menurut hanif penurunan permukaan tanahnya terus turun tiap tahun sedalam 10 cm. Sementara untuk Jakarta, penurunan permukaan tanah lebih dalam lagi karena banyaknya penggunaan air tanah, namun tidak disebutkan seberapa dalam.
“Kita berbondong-bondong melakukan usaha yang masif di kawasan industri, kawasan hunian di Jakarta ini. Tanpa kita sadari, hampir setiap tahunnya permukaan tanah turun dari 3 cm sampai 5 cm, bahkan ada yang sampai setengah meter,” ujar Hanif dalam acara ESG Sustainability Forum 2026 CNBC Indonesia, di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
“Demak, itu kemarin kita lihat hampir 10 cm dalam 1 tahun. Di Jakarta mungkin agak lebih berat ya karena masif pengambilan air tanahnya,” tambahhya.
Hanif mengatakan penggunaan air tanah besar-besaran harus segera dibatasi. Kemudian ia mendorong segera beralih ke pemanfaatan air permukaan sebagai sumber air baku, termasuk untuk industri air minum dalam kemasan (AMDK).
“Tapi kalau air kemasan itu diproduksi dari air tanah, ya itu sebenarnya ya kurang ini ya, menggunakan narasi lingkungan tapi yang dijadikan, yang dilakukan ekstraksi dari lapisan air tanah kita,” ujarnya.
Hanif pun menambahkan pemerintah telah mewajibkan perusahaan-perusahaan yang menggunakan air tanah dalam jumlah besar, termasuk industri migas, untuk melakukan kompensasi lingkungan.
“Teman-teman perusahaan semacam minyak yang menggunakan melakukan pengeboran minyak menggunakan air cukup besar wajib mengkompensasi dengan merehabilitasi pemulihan sungai dan dana,” terang Hanif
“Ini menjadi satu keniscayaan, karena kalau terus diproduksi airnya digunakan, kita nggak tahu seberapa mampu kita akan bertahan,” tambahhya.













